Tanah yang Ditebus Darah

 

“Tanah yang Ditebus Darah”


Para pemuda dulu resah.
Langit tak menjanjikan apa pun,
tanah hanya menumbuhkan ketakutan.
Namun dari gelap itu mereka bangkit —
mereka tak ingin hidup berlutut di bumi sendiri.

Mereka berteriak dalam sunyi,
berdoa dalam peluru,
menyebut nama Allah dalam gemuruh.
Mereka jatuh —
tapi jatuh mereka bukan kalah,
melainkan tumbuh menjadi pahlawan.

Kini bendera itu telah berkibar lama,
tapi di bawahnya:
masih ada anak yang lapar,
ibu yang kehilangan harap,
dan suara keadilan yang tenggelam di keramaian.

Kita merdeka,
namun masih banyak yang terjajah —
oleh serakah, oleh dusta, oleh lupa.
Martabat dijual di pasar kekuasaan,
harga diri tergadai oleh kemewahan.

Wahai bangsaku,
jangan biarkan darah itu sia-sia!
Hari Pahlawan bukan perayaan tahunan,
ia adalah amanah harian,
ia menuntut keberanian yang tenang,
dan kejujuran yang tak gentar miskin.

Bangkitlah —
bukan dengan pedang, tapi dengan nurani.
Bukan dengan benci, tapi dengan kasih yang tegas.

Jadikan negeri ini
seperti doa yang mereka titipkan:
Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur
tanah yang indah,
jiwa yang bersih,
dan Tuhan yang mengampuni.

Karena pahlawan sejati
bukan hanya mereka yang gugur,
tetapi juga kita yang berani hidup benar
di tengah kebohongan yang merdeka.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts