AIR YANG KEHILANGAN JALAN PULANG

 ”AIR YANG KEHILANGAN JALAN PULANG”
Monsoon Tak Pernah Bersalah


Di Sumatera, hujan turun seperti kabar duka,
mengetuk atap-atap gelisah,
menggedor pintu-pintu rumah
di mana orang-orang berdoa semalaman,
agar sungai tak menjelma monster.

Hutan—
yang dulu tegak seperti guru tua,
menjaga akar kehidupan,
menyerap air dengan kesabaran seorang bijak—
kini hilang perlahan,
seperti ayat kitab yang disobek dari halaman.

Pohon-pohon tumbang,
bukan oleh badai,
tetapi oleh tangan manusia
yang terlalu cepat lupa
bahwa nafasnya berasal dari daun yang ia tebang;
bahwa makmurnya sawah,
tenangnya malam,
sejuknya angin,
adalah hadiah
dari akar yang bekerja dalam senyap.

Dan ketika hujan besar datang,
ia tidak lagi punya tempat untuk singgah.
Air yang dulu bersujud ke tanah,
kini mengamuk,
berlari tanpa kendali,
membawa tanah, rumah,
pohon yang tersisa,
bahkan jasad yang belum sempat berpamitan.

Lalu kita menyalahkan angin musim,
menyalahkan badai dari timur,
menyalahkan langit,
yang hanya melakukan tugasnya—
menurunkan rahmat,
yang berubah laknat
karena kita telah merusak jalur kasihnya.

Inilah banjir bandang—
ketika alam yang haus keadilan
tidak lagi berbicara dengan kata-kata,
melainkan dengan arus yang mencabut segala.

Namun di antara genangan itu,
kita menemukan cermin:
muka kita sendiri,
yang ikut tenggelam dalam kerakusan.



Tapi dengarlah—
alam masih punya kesabaran yang tidak dimiliki manusia.
Ia selalu memberi ruang
bagi mereka yang ingin pulang ke hikmah.

Tanam kembali harapan itu
dalam bentuk bibit di lereng
dan doa di dada bumi.
Pulihkan akar,
agar air kembali tahu kemana ia pulang.

Beri tempat bagi hutan untuk menjadi hutan,
bagi sungai untuk bernapas,
bagi tanah untuk memeluk hujan
tanpa takut kehilangan diri.

Ajari anak-anak kita
bahwa pepohonan bukan sekadar kayu,
bahwa daun menyimpan ayat-ayat pertolongan,
bahwa bumi bukan warisan,
melainkan titipan
yang harus kembali dalam keadaan mulia.

Di Sumatera,
hujan akan turun lagi besok,
dan lusa,
dan sepanjang waktu—
itu tak akan berubah.

Yang harus berubah adalah kita:
cara kita mencari rezeki,
cara kita memandang tanah,
cara kita mengukur keberhasilan—
bukan dari seberapa banyak yang ditebang,
tetapi seberapa banyak yang tumbuh kembali.

Dan ketika akar-akar itu kembali berdoa
di dalam tanah yang kita rawat,
ketika burung-burung kembali bernyanyi
di dahan yang kita jaga,
ketika hujan turun dan sungai tersenyum,
kita akan tahu,
bahwa bencana bukan takdir,
melainkan pelajaran.

Sampai bumi dan manusia
saling memaafkan.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts