ANAK DARI DUA SERAMBI

 ”ANAK DARI DUA SERAMBI”

Aku lahir
dari dua serambi yang saling bersalaman.

Satu beralas tikar pesantren,
dengan kitab kuning yang dibaca pelan,
doa yang dilagukan,
dan waktu yang sabar menunggu fajar.

Yang lain berdiri tegak di ruang kelas,
rapi, terang,
dengan jam dinding yang disiplin
dan iman yang ingin segera bekerja.


Kakek buyutku
menjaga pesantren kecil NU di Purwokerto,
menjadi penjaga api sunyi,
mengasuh santri
seperti merawat lampu di malam panjang.

Tapi kakekku memilih jalan lain:
ia menutup pintu pengasuhan,
membuka jendela pengajaran.
Menjadi guru Muhammadiyah di Cilacap,
karena panggilan jiwa
tak selalu mengikuti jejak darah.

Di situ aku belajar pertama kali:
iman bukan warisan yang harus disalin,
tetapi amanah yang harus dipilih.


Ayahku Muhammadiyah,
namun hidupnya lama berdenyut
di tanah NU Jawa Timur.

Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Jombang—
nama-nama yang bukan sekadar peta,
tetapi silaturahim.

Ia datang sebagai aparat negara,
namun pulang sebagai tamu kyai.
Duduk bersila,
menyimak dengan hormat,
tertawa dengan santri,
dan menundukkan ego
di hadapan ilmu yang lebih tua.

Di rumah,
Muhammadiyah mengajarku berpikir.
Di sekolah,
NU mengajarku merasakan.


Saat Ayah menjadi Kapolda Jawa Timur,
pesantren semakin dekat
dengan hidup kami.

Aku melihat kekuasaan
yang bersedia menunduk,
dan agama
yang tidak takut bersalaman dengan negara.

Di situ aku paham:
iman tak harus berteriak,
cukup hadir
dengan adab.


Lalu aku pergi jauh,
ke Amerika.

Di sana,
Islam kehilangan seragam.
Tak ada NU,
tak ada Muhammadiyah,
yang ada hanya rindu.

Aku duduk bersama
Sunni, Syiah, Salafi, Sufi,
dan mereka yang hanya ingin berdoa
tanpa label apa pun.

Kami berbeda,
tapi satu arah kiblat.

Aku bahkan pernah diminta
duduk di majelis syuro,
bukan karena aku paling tahu,
tetapi karena aku terbiasa mendengar.


Kini,
orang bertanya:
“Engkau NU atau Muhammadiyah?”

Aku tersenyum.

Aku adalah anak dari dua serambi.
Aku shalat dengan ketenangan NU,
berpikir dengan kejernihan Muhammadiyah.
Aku mencintai tradisi,
tanpa takut pada pembaruan.
Aku bergerak maju,
tanpa memutus akar.

Ada bagian NU
yang mengajarkanku sabar dan khidmat.
Ada bagian Muhammadiyah
yang mengajarkanku terang dan berani.

Dan aku tidak ingin memilih salah satunya
dengan menyingkirkan yang lain.


Karena jiwaku
lebih luas dari satu bendera.

Dan Tuhan,
aku yakin,
lebih menyukai hati yang lapang
daripada barisan yang kehilangan keluasan.


Aku bukan kehilangan mahzab,
aku sedang memeluknya lebih luas.

Bukan bingung,
tetapi bersyukur.

Karena hidupku
adalah dialog yang terus berjalan,
bukan putusan yang harus dipaksakan.


Salam bagi NU yang mengajarkanku adab.
Salam bagi Muhammadiyah yang mengajarkanku arah.
Salam bagi iman yang tumbuh
di antara keduanya—
tenang, ceria,
dan utuh.



ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts