Are You There, God? It’s Me, Indonesia

“Are You There, God? It’s Me, Indonesia.”

Are you there, God?
Ini aku—Indonesia.
Bukan satu suara,
tapi jutaan napas yang lelah
menahan sesak di dada.

Kami berjalan di negeri yang indah,
tanahnya subur, lautnya luas,
langitnya biru—
namun langkah kami tertatih
di bawah beban kekuasaan
yang sering lupa untuk menunduk.

Pemerintah berjalan lambat, Tuhan,
seperti mendengar jerit
melalui dinding tebal kenyamanan.
Keputusan diambil dari meja tinggi,
tanpa menoleh ke lantai
tempat rakyat berdiri berdesakan.

Mereka berkata paling tahu,
paling benar,
paling mengerti arah zaman.
Namun telinga mereka tertutup,
dan hati mereka sibuk
menghitung keuntungan sendiri.

Kewenangan dipakai
bukan untuk melindungi,
tapi untuk memperkaya diri.
Korupsi tumbuh seperti lumut
di tembok birokrasi—
diam-diam, tapi merusak segalanya.

Yang jujur terdiam, Tuhan.
Yang baik menunduk takut.
Yang berani disingkirkan,
yang kritis dicurigai.
Maka kejahatan terasa berani,
dan kebenaran tampak sendirian.

Rakyat menderita dalam sunyi.
Harga naik, harapan turun.
Kerja keras tak selalu cukup
untuk hidup dengan bermartabat.
Kami gemas,
kami frustasi,
kami lelah menunggu.

Apa lagi yang harus kami hadapi, Tuhan?
Generasi yang cemas akan masa depan?
Anak-anak yang tumbuh
dalam sistem yang tak adil?
Orang tua yang bekerja seumur hidup
namun tetap tak aman?

Are you still there, God?
Atau kami yang terlalu gaduh
hingga lupa mendengar-Mu?

Jika Engkau masih di sini,
titipkanlah keberanian
di dada orang-orang baik—
agar mereka berani berdiri,
meski sendirian,
meski gemetar.

Tumbuhkan pemimpin
yang takut pada nurani,
bukan pada kehilangan jabatan.
Pemimpin yang mendengar
lebih banyak daripada berbicara,
yang melayani tanpa merasa lebih tinggi.

Kuatkan rakyat kecil, Tuhan.
Ajari kami bertahan
tanpa kehilangan kemanusiaan.
Ajari kami melawan
tanpa menjadi kejam.
Ajari kami berharap
tanpa menjadi naif.

Sebab kami percaya—
keadilan mungkin tertunda,
tapi tidak pernah sia-sia.
Kebenaran mungkin sunyi,
tapi ia tak pernah mati.

Dan jika hari ini gelap,
biarlah kami menjadi lilin kecil
yang menolak padam.
Jika sistem menekan,
biarlah nurani kami tetap tegak.

Are you there, God?
Jika ya—
tinggallah lebih lama
di hati kami.
Sebab Indonesia masih ingin sembuh,
masih ingin adil,
dan masih ingin percaya
bahwa cahaya
selalu menemukan jalan
di tengah kegelapan.




ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts