DI AMBANG TAHUN, KAMI BELAJAR MENUNDUK

 ”DI AMBANG TAHUN, KAMI BELAJAR MENUNDUK”

Di ujung tahun 2025
kami berdiri tanpa sorak,
tanpa pesta yang sungguh selesai di hati.
Kalender menutup dirinya perlahan,
seperti luka yang akhirnya berhenti berdarah,
namun belum sepenuhnya sembuh.

Tahun ini
kami belajar bahwa lelah bukan sekadar letih tubuh,
melainkan kehabisan percaya
pada kata-kata yang terlalu sering menjanjikan,
namun jarang benar-benar hadir
saat rakyat memanggil dengan suara gemetar.

Kami melihat negeri ini berjalan
dengan langkah besar para pengambil keputusan,
sementara di bawahnya
ada kaki-kaki kecil yang tertatih—
petani menghitung musim yang tak ramah,
buruh menghitung hari yang tak cukup,
ibu-ibu menghitung beras
dan berharap cukup sampai akhir bulan.

Kami melihat hukum berdiri megah
di gedung-gedung tinggi,
namun sering lupa menunduk
untuk menyapa yang jatuh di jalanan.
Kami belajar bahwa keadilan
bukan sekadar pasal dan vonis,
tetapi rasa aman
bagi mereka yang tak punya pelindung
selain doa.

Tahun ini
kami menyaksikan kata “kebijakan”
turun ke pasar-pasar
sebagai harga yang naik,
turun ke rumah-rumah
sebagai tagihan yang bertambah,
turun ke dada rakyat
sebagai sesak yang sulit dijelaskan.

Namun Tuhan,
di balik semua itu
kami juga melihat sesuatu yang tak tercatat
dalam laporan resmi:
ketabahan yang tak diumumkan,
kejujuran kecil yang tak viral,
orang-orang yang tetap bekerja dengan lurus
meski dunia memberinya alasan
untuk bengkok.

Kami melihat guru tetap mengajar
meski dihitung seadanya,
tenaga kesehatan tetap merawat
meski sering dilupakan,
ASN jujur tetap berdiri
di antara sistem yang kadang tak ramah
pada kejujuran.

Di tahun 2025
kami belajar bahwa negeri ini
tidak runtuh karena kurang pintar,
melainkan karena terlalu sering lupa
untuk mendengar.
Bahwa kekuasaan tanpa empati
adalah bangunan tinggi
tanpa tangga ke bawah.

Maka di penghujung tahun ini
kami tidak meminta pesta,
kami meminta jeda.
Jeda untuk merenung,
untuk mengakui,
untuk bertobat—
sebagai individu,
sebagai pemimpin,
sebagai bangsa.


Dan kini, tahun 2026 mengetuk pelan.

Kami tidak memintanya datang
sebagai tahun yang sempurna,
kami memintanya datang
sebagai tahun yang jujur.

Tahun
di mana kebijakan lahir
bukan hanya dari meja rapat,
tetapi dari mendengar napas rakyat.
Tahun
di mana hukum berani adil,
bukan sekadar kuat.
Tahun
di mana negara kembali ingat
bahwa ia dibentuk
untuk melayani,
bukan dilayani.

Kami berharap
para pemimpin belajar menunduk
sebelum belajar meninggi.
Bahwa kekuasaan
adalah amanah yang bergetar,
bukan mahkota yang memabukkan.
Bahwa tanda keberhasilan
bukan tepuk tangan elite,
melainkan berkurangnya tangis
di dapur-dapur sunyi.

Tahun 2026,
jadilah tahun
di mana suara kecil tidak ditertawakan,
kritik tidak dicurigai,
dan kejujuran tidak dianggap naif.
Jadilah tahun
di mana digital bukan sekadar aplikasi,
tetapi alat untuk mempermudah hidup
yang paling sederhana.

Kami berharap
negeri ini belajar berjalan bersama,
tidak meninggalkan yang tertinggal,
tidak melupakan yang lelah.
Bahwa pembangunan
tak hanya terlihat dari beton dan angka,
tetapi dari hati rakyat
yang merasa dilibatkan.

Dan Tuhan,
jika kami meminta terlalu banyak,
cukup beri kami satu hal:
keberanian untuk berubah.
Keberanian untuk mengakui salah,
memperbaiki yang rusak,
dan menjaga yang masih lurus.

Biarlah tahun 2026
menjadi tahun
di mana bangsa ini
tidak hanya kuat di atas kertas,
tetapi hangat di pelukan rakyatnya.
Tidak hanya maju,
tetapi beradab.
Tidak hanya tumbuh,
tetapi berjiwa.

Di ambang tahun baru ini
kami menutup mata sejenak,
menarik napas panjang,
dan berdoa:

Semoga negeri ini
belajar mencintai rakyatnya
sebagaimana rakyat
tak pernah berhenti berharap padanya.

Aamiin…
yā Mujības-sā’ilīn, yā Qarībal-mushallīn.

Semoga doa yang terucap dari dada yang jujur
tidak berhenti di langit,
tetapi turun menjadi jalan yang dibukakan,
hati yang dilembutkan,
dan keberanian untuk berubah—pelan, nyata, dan bersama.

Semoga yang lelah dikuatkan,
yang memimpin diberi hikmah,
dan negeri ini dijaga
bukan hanya dari bencana,
tetapi dari lupa pada amanah.

Aamiin ya Rabbal ‘ālamīn.


31 Desember 2025
ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts