Di Antara Dua Bilik Kekuasaan
”Di Antara Dua Bilik Kekuasaan”
— Tentang Pilihan, Kuasa, dan Nurani Demokrasi
— Tentang Pilihan, Kuasa, dan Nurani Demokrasi
Di tanah ini,
demokrasi kita dirikan seperti tenda
— ramai kain warna,
tiang janji,
dan sorak yang menggema dari lapangan ke lapangan.
Lalu kita bertanya pelan,
setelah debu pemilihan turun:
siapa yang benar-benar pulang membawa kuasa?
⸻
I
Pada pilihan langsung,
rakyat datang berbondong-bondong
dengan jari yang bersih dan harap yang utuh.
Mereka berdiri dalam antrean
seperti ziarah panjang
menuju bilik suara
yang katanya suci.
Di sana,
satu kertas menjelma doa,
satu coblosan jadi amanah.
Namun di luar bilik,
uang beredar lebih fasih dari kata,
janji lebih murah dari nasi bungkus,
dan demokrasi—
oh demokrasi—
dipeluk,
lalu diperas pelan-pelan
oleh mereka yang paham harga segalanya
kecuali martabat.
Rakyat memilih,
tetapi modal menentukan.
Pemimpin terlahir,
namun sejak lahir
sudah berhutang.
Dan kekuasaan pun berjalan
bukan ke arah rakyat,
melainkan ke arah pengembalian.
⸻
II
Lalu ada pilihan oleh DPRD,
sunyi,
ringkas,
rapi seperti rapat tertutup.
Tak ada sorak,
tak ada spanduk,
tak ada jari bernoda tinta.
Efisiensi dipuja,
stabilitas disanjung,
konflik dikubur rapi
di balik meja panjang
dan senyum yang saling memahami.
Namun di ruang itu,
rakyat hanya nama dalam notula,
bukan suara,
bukan wajah,
bukan luka.
Oligarki tak lagi bersembunyi,
ia duduk tegak,
berjas resmi,
dan berkata jujur:
“Tak perlu ramai,
cukup kami yang mengatur.”
Demokrasi dipersingkat,
tetapi jiwa publik dipangkas.
⸻
III
Maka kita terjebak
di antara dua bilik kekuasaan:
yang satu terang tapi mahal,
yang lain efisien tapi dingin.
Yang satu memberi ilusi kedaulatan,
yang lain meniadakan kedaulatan sama sekali.
Dan kita mulai sadar,
masalahnya bukan siapa yang memilih,
melainkan siapa yang menguasai
sebelum dan sesudah pilihan dibuat.
⸻
IV
Demokrasi sejati
bukan pesta lima tahunan,
bukan pula transaksi elite.
Ia adalah laku panjang:
kejujuran partai,
keterbukaan dana,
pendidikan warga,
dan hukum yang tak berlutut.
Tanpa itu semua,
pemilu hanyalah ritual kosong,
dan efisiensi hanyalah nama lain
dari penyingkiran rakyat.
⸻
V
Wahai demokrasi,
kami ingin engkau lebih dari sekadar prosedur.
Kami ingin engkau berakar,
bukan sekadar berkemah.
Kami ingin engkau mendidik,
bukan memanfaatkan.
Kami ingin engkau adil,
bukan sekadar sah.
Ajari kami memilih pemimpin
yang tak lahir dari hutang,
tak tumbuh dari tipu daya,
dan tak lupa arah pulang.
⸻
VI
Dalam kesunyian setelah sorak,
kekuasaan berdiri sendiri
tanpa pelindung.
Di sana,
ia tak lagi bertanya
siapa memilihku,
melainkan
untuk siapa aku ada.
Jika pertanyaan itu hilang,
tak ada sistem yang cukup adil
untuk menyelamatkan demokrasi.
⸻
VII
(Untuk 38 Doa dan 514 Nama Harapan)
Bayangkan demokrasi yang tidak hanya memilih,
tetapi mendidik.
Partai-partai yang tidak menjual tiket,
tetapi membesarkan watak.
Uang yang berjalan terang,
tanpa bisik-bisik,
tanpa hutang moral
yang harus dibayar dengan kebijakan.
Pemimpin yang lahir ringan,
tanpa beban balas jasa,
memandang APBD
bukan sebagai alat,
melainkan amanah.
DPRD yang berdiri tegak,
mengawasi tanpa menukar prinsip,
menyuarakan tanpa memperdagangkan kuasa.
Rakyat yang tidak dibujuk dengan amplop,
tetapi diajak berpikir,
dihormati sebagai warga,
bukan massa.
Hukum yang berdiri lurus,
tidak condong pada yang kuat,
tidak membelokkan keadilan
atas nama stabilitas.
Teknologi yang membuka cahaya,
bukan menambah bayang-bayang.
Dan daerah-daerah yang memimpin
dengan kearifan tanahnya sendiri,
dari pesisir hingga pegunungan,
dari kota hingga desa yang sunyi.
Di sanalah Pilkada
bukan lagi pertaruhan,
melainkan perawatan.
⸻
VIII
Di negeri seluas ini,
demokrasi tidak boleh dipilih
antara ramai atau ringkas.
Ia harus dihidupi
sebagai kesadaran panjang:
bahwa kekuasaan hanyalah singgah,
dan rakyat
adalah alasan
kita tetap percaya
bahwa demokrasi
layak dijaga.
Salam demokrasi yang berakar.
Salam nurani.
Salam tanggung jawab sejarah.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment