DI ANTARA STATUS DAN AIR MATA

”DI ANTARA STATUS DAN AIR MATA”

 Puisi tentang Negara, Bencana, dan Nurani




I. Negara Berbicara dengan Angka
Negara berdiri di ruang berpendingin,
berbicara dalam grafik dan matriks,
dengan suara tenang:
“Situasi terkendali.”

Meja rapat dipenuhi istilah:
indikator, ambang batas, kewenangan,
kata-kata rapi
yang tak pernah basah oleh hujan.

Status belum naik, kata mereka,
karena prosedur harus lengkap,
karena aturan tak boleh dilompati,
karena negara tak boleh tergesa.

Di peta digital,
air hanya warna biru.
Di laporan harian,
manusia menjadi angka.



II. Lapangan Berbicara dengan Tubuh

Namun di luar sana,
bumi tak menunggu tanda tangan.
Air naik tanpa notulen,
lumpur bergerak tanpa surat edaran,
dan malam datang
tanpa menunggu keputusan presiden.

Seorang ibu menimang anaknya
di atap rumah yang tinggal kenangan,
seorang relawan menghitung logistik
dengan senter dan doa,
seorang aparat bingung
karena tak tahu siapa yang memimpin hari ini.

Di lapangan,
keterlambatan bukan konsep,
ia adalah hipotermia,
ia adalah satu nyawa yang tak sempat diselamatkan.



III. Dua Dunia yang Tak Bertemu

Negara berkata:
“Kami sudah bekerja.”

Lapangan menjawab:
“Kami bekerja tanpa arah.”

Negara berkata:
“Koordinasi berjalan.”

Lapangan berbisik:
“Kami berjalan sendiri-sendiri.”

Negara menunggu indikator,
sementara bencana menunggu siapa yang berani.

Di sinilah tragedi sebenarnya:
bukan air yang meluap,
melainkan keputusan yang surut.



V. Amatir Bukan karena Tak Mampu,

Tapi Karena Tak Mau Mendengar
Amatir bukan soal kurang alat,
tetapi kurang keberanian
untuk berkata: “Saya ambil alih.”

Amatir bukan soal niat buruk,
tetapi ego lembaga
yang lebih tinggi dari air bah.

Ketika kritik dianggap ancaman,
dan pengalaman lapangan dianggap noise,
negara kehilangan
salah satu inderanya yang paling penting:
pendengaran nurani.



V. Bencana sebagai Cermin

Setiap bencana adalah cermin,
bukan hanya bagi sungai dan hutan,
tetapi bagi watak kekuasaan.

Ia bertanya diam-diam:
Apakah negara hadir sebagai pelayan,
atau sekadar penjaga prosedur?
Apakah pemimpin berdiri paling depan
saat keadaan paling gelap,
atau menunggu terang
agar terlihat rapi?



VI. Doa di Tengah Lumpur

Dan di antara lumpur,
ada doa yang tak pernah masuk laporan.
Doa relawan yang kelelahan,
doa warga yang kehilangan segalanya
kecuali iman,
doa sunyi agar negara
belajar lebih cepat dari bencana berikutnya.

Tuhan,
jika Engkau menguji negeri ini dengan air,
jangan biarkan kami gagal
belajar tentang kepemimpinan.

Ajari kami bahwa
kecepatan adalah bentuk kasih,
keputusan adalah amanah,
dan kekuasaan adalah tanggung jawab
yang kelak juga akan dimintai pertanggungjawaban.



VII. Harapan yang Tetap Menyala

Masih ada harapan,
selama negara mau merunduk
mendengar suara paling bawah.

Masih ada cahaya,
jika keputusan diambil
bukan dari ketakutan,
melainkan dari keberanian untuk melindungi.

Karena pada akhirnya,
bencana bukan soal status nasional,
tetapi soal apakah negara memilih hadir
sebagai tangan yang menolong
atau hanya sebagai suara yang menjelaskan.


ⒷⒽⓌ

Staf BRR Aceh Nias, 2005-2009

Comments

Popular Posts