Hutan yang Bertanya pada Masa Depan

 “Hutan yang Bertanya pada Masa Depan”
Agar Pembangunan Kesejahteraan tak Menebang Harapan

Di mana batas lapar manusia
dan haus bumi yang tak terperikan?
Ketika pohon-pohon tumbang
seperti ayat yang dicoret dari kitab kehidupan,
kita menghitung untung rugi
dengan angka yang tak mengenal air mata.

Hutan hujan, ibu dari segala napas,
pernah berjanji pada langit
untuk menyimpan rahasia hijau
agar bumi tetap sejuk dalam dekapannya.
Namun, gergaji dan api
menjadikan angin sesak oleh abu masa depan.

Di antara batang-batang yang rebah,
ada rumah burung yang sirna,
ada sungai yang berubah warna,
ada rantai makanan retak
yang diam-diam mempersempit
ruang hidup seluruh semesta.

Tapi tengoklah mereka
yang menggaruk tanah demi sesuap harapan,
yang menitipkan hidup pada ladang sempit
dan buruh yang diupah dengan mimpi.
Bisakah kita menyalahkan
perut yang tak bisa menunda waktu?
Atau kita menutup mata
pada mereka yang mengalirkan laba
ke pundi kuasa yang rakus—
sementara yang miskin tetap lapar?

Bangsa yang ingin melesat
tak seharusnya kehilangan akarnya.
Pembangunan yang hanya mengejar hari ini
akan melukai esok yang lebih panjang.
Dan kerusakan yang kita biarkan terjadi
bukan hanya menagih balasan di masa depan—
tapi sudah menyengsarakan kita hari ini:
banjir yang datang tanpa isyarat,
panas yang mematahkan panen,
penyakit yang tumbuh dari genangan ketidakpedulian.

Anak-anak yang belum lahir
telah mewakilkan suaranya pada kita:
“Jangan rampas udara kami,
jangan pinjam masa depan kami
untuk kau bayar dengan bencana.”
Mereka tak menuntut kekayaan,
hanya hak untuk bernafas
di bumi yang tak tercemar.

Maka mari kita berunding
dengan sungai, dengan tanah, dengan langit.
Mari kita menulis ulang rencana pembangunan
yang tak hanya menghitung rupiah,
tapi juga menghitung kehidupan.
Mari dedikasikan cangkul—bukan untuk pembantaian alam—
melainkan untuk menanam kembali
apa yang telah hilang dalam kebisingan mesin.

Sebab bumi bukan warisan,
ia titipan untuk dikembalikan
lebih indah daripada saat kita menerimanya.
Dan di setiap daun yang tumbuh,
ada peluang bagi manusia
untuk menjadi makhluk yang bermartabat.

Jika kita lupa,
ingatlah:
di balik setiap pohon yang tumbang
ada doa yang patah
dan langit yang tak lagi teduh.

Semoga tangan yang membangun
tak lagi menjadi tangan yang menghancurkan.
Semoga jiwa kita menemukan kembali kompas
yang menunjuk pada keseimbangan.

Sebab alam adalah ayat panjang
yang ditulis Tuhan pada tanah, angin, dan cahaya.
Dan kita—
adalah penafsirnya.

Agar kelak, ketika kita diadili oleh cucu-cucu kita
dan oleh langit yang mencatat,
kita dapat berkata:
Kami tidak sempurna,
tapi kami berjuang
menjadi penjaga kehidupan.

ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts