Jika Para Pendiri Bangsa Mengetuk Pintu Zaman
”Jika Para Pendiri Bangsa Mengetuk Pintu Zaman”
— Suara Para Pendiri Bangsa di Hadapan Indonesia Hari Ini
Di sebuah pagi yang sibuk oleh agenda dan layar,
bayangkan sejarah turun perlahan
tanpa amarah,
tanpa pengeras suara,
hanya membawa pertanyaan.
Soekarno berdiri lebih dulu,
suaranya tak lagi menggelegar,
melainkan bening oleh jarak waktu.
Ia menatap republik yang dibangunnya
dengan api dan keyakinan.
“Aku tidak memerdekakan bangsa ini
agar elite merasa paling benar,”
katanya lirih,
“atau rakyat menjadi penonton
dari kekuasaan yang lupa mendengar.”
Ia melihat nasionalisme diteriakkan,
namun keadilan masih bernegosiasi.
Ia melihat kuasa berdiri tegak,
namun kerap rapuh di hadapan kritik.
Dan ia mengingatkan,
seperti dulu ia bersumpah:
“Revolusi belum selesai
selama watak kita belum merdeka.”
Lalu Mohammad Hatta melangkah,
sunyi, rapi, bersahaja.
Di tangannya bukan pidato,
melainkan timbangan nurani.
— Suara Para Pendiri Bangsa di Hadapan Indonesia Hari Ini
Di sebuah pagi yang sibuk oleh agenda dan layar,
bayangkan sejarah turun perlahan
tanpa amarah,
tanpa pengeras suara,
hanya membawa pertanyaan.
Soekarno berdiri lebih dulu,
suaranya tak lagi menggelegar,
melainkan bening oleh jarak waktu.
Ia menatap republik yang dibangunnya
dengan api dan keyakinan.
“Aku tidak memerdekakan bangsa ini
agar elite merasa paling benar,”
katanya lirih,
“atau rakyat menjadi penonton
dari kekuasaan yang lupa mendengar.”
Ia melihat nasionalisme diteriakkan,
namun keadilan masih bernegosiasi.
Ia melihat kuasa berdiri tegak,
namun kerap rapuh di hadapan kritik.
Dan ia mengingatkan,
seperti dulu ia bersumpah:
“Revolusi belum selesai
selama watak kita belum merdeka.”
Lalu Mohammad Hatta melangkah,
sunyi, rapi, bersahaja.
Di tangannya bukan pidato,
melainkan timbangan nurani.
“Negara ini tidak kekurangan hukum,”
ucapnya tenang,
“yang kurang adalah kejujuran
untuk menaatinya.”
Ia memandang angka-angka pertumbuhan
yang naik,
namun mendengar jarak yang melebar.
Ia melihat jabatan diperebutkan
seperti hak,
bukan amanah.
Dengan suara yang nyaris doa,
ia berkata:
“Demokrasi tanpa moral
hanya melahirkan oligarki yang rapi.”
Dari sudut lain,
Sutan Sjahrir berbicara pelan,
seperti guru yang tahu
muridnya terlalu lelah untuk berpikir.
“Ketika emosi menggantikan akal,”
katanya,
“yang lahir bukan keberanian,
melainkan kerumunan.”
Ia melihat kata-kata dipercepat,
dipelintir,
dibenturkan.
Kritik dianggap permusuhan,
perbedaan disalahpahami sebagai ancaman.
Ia menghela napas dan berkata:
“Demokrasi hidup
dari warga yang berpikir,
bukan dari massa yang digerakkan.”
Tan Malaka datang terakhir,
tajam namun jujur.
Matanya menembus zaman
tanpa basa-basi.
“Bangsa yang takut berpikir sendiri,”
ujarnya,
“akan selalu membutuhkan tuan—
meski namanya berubah.”
Ia melihat ketergantungan pada figur,
pemujaan pada kuasa,
ketakutan untuk berbeda.
Dan ia bertanya,
bukan dengan marah,
melainkan dengan harap yang keras.
Lalu keempatnya diam.
Dalam diam itu,
mereka tidak menuntut,
tidak mengutuk.
Mereka hanya meletakkan cermin
di hadapan republik ini.
Di cermin itu,
kekuasaan diuji:
apakah ia masih melayani
atau hanya mempertahankan diri.
Masyarakat diuji:
apakah ia masih berpikir
atau sekadar bereaksi.
Dan di atas segalanya,
Tuhan diuji dalam keheningan:
apakah nama-Nya
masih menjadi sumber kebijaksanaan,
atau hanya hiasan pidato.
Kemerdekaan,
ternyata bukan akhir perjalanan,
melainkan latihan panjang
menjadi dewasa—
dalam kuasa,
dalam kritik,
dalam tanggung jawab.
Maka jika para pendiri bangsa
mengetuk pintu zaman ini,
mereka mungkin tidak berkata keras.
Mereka hanya berbisik,
dengan suara yang tak bisa diabaikan:
“Bangunlah,
bukan untuk melawan sesama,
melainkan untuk melawan kesombongan dalam diri.
Karena republik ini
akan bertahan
bukan oleh kuatnya kuasa,
melainkan oleh rendah hatinya jiwa.”
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment