Manual Kekuasaan yang Lupa Dibaca
“Manual Kekuasaan yang Lupa Dibaca”
Kekuasaan selalu datang
dengan kitab tebal bernama mandat.
Sayangnya,
yang dibaca sering hanya sampulnya:
mayoritas, stabilitas, keamanan, pembangunan.
Isi kitab—
tentang batas, tentang kontrol, tentang rakyat—
disimpan di rak paling atas
dan dibiarkan berdebu.
⸻
Di negeri ini,
hubris tak selalu berteriak.
Ia bisa tersenyum sopan
sambil mengamandemen hukum.
Ia bisa berbicara halus
sambil mematikan perlawanan.
Yang satu melunakkan aturan
demi kelancaran agenda.
Yang lain mengeraskan suara
demi ketertiban nasional.
Berbeda gaya,
sama naluri:
menjadikan negara sebagai perpanjangan kehendak.
⸻
Kekuasaan berkata:
“Kami tahu apa yang terbaik.”
Rakyat diminta percaya,
tanpa ruang bertanya.
Parlemen mengangguk,
partai berhitung,
dan oposisi disusutkan
menjadi dekorasi demokrasi.
Beginilah hubris bekerja:
bukan dengan kudeta,
melainkan dengan normalisasi.
⸻
Dampaknya?
Hukum menjadi lentur
bagi yang berkuasa,
keras bagi yang bersuara.
Kritik dikemas sebagai ancaman,
aktivisme dipersempit menjadi keributan,
dan ketidaksetujuan
disebut tidak nasionalis.
Negara tampak stabil,
namun keadilan pincang.
Pemerintahan berjalan rapi,
namun legitimasi bocor pelan-pelan.
⸻
Dan rakyat?
Belajar menunduk
tanpa diminta.
Belajar diam
tanpa dipaksa.
Karena ketakutan paling efektif
adalah yang tak perlu aparat.
⸻
Lalu bagaimana meluruskannya?
Pertama:
hentikan pemujaan figur.
Tak ada presiden, menteri,
atau jenderal
yang lebih besar dari konstitusi.
Kedua:
kembalikan fungsi malu pada kekuasaan.
Pemimpin yang tak bisa dikritik
bukan kuat—
ia hanya rapuh dan dikelilingi penjilat.
Ketiga:
hidupkan oposisi, meski tak nyaman.
Negara tanpa oposisi
bukan stabil,
ia hanya menunggu ledakan.
⸻
Dan kepada pemimpin—
ingatlah satu hukum politik
yang tak pernah gagal:
setiap kekuasaan
yang menolak dikoreksi hari ini
akan dikoreksi sejarah
dengan cara yang jauh lebih kejam.
⸻
Demokrasi tidak mati
karena satu orang.
Ia mati karena terlalu banyak orang
memilih aman
daripada benar.
Maka jika negeri ini ingin lurus,
ia harus berani berkata:
“Cukup.”
pada kekuasaan yang terlalu percaya diri,
dan
“Tidak.”
pada pembenaran yang berkedok cinta tanah air.
⸻
Karena negara yang dewasa
bukan yang dipimpin oleh tangan paling kuat,
melainkan oleh
sistem yang berani membatasi tangan itu
dan
rakyat yang tak rela nuraninya disewakan.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment