Menjaga Teduh Dalam Diri
”Menjaga Teduh Dalam Diri”
Aku pernah berdiri lama
di halaman yang bernama negara,
menghitung hari dengan seragam rapi,
menyimpan harap di map-map bergambar garuda
dan percaya:
jika bekerja sungguh-sungguh,
negara akan bergerak ke arah yang lebih baik.
di halaman yang bernama negara,
menghitung hari dengan seragam rapi,
menyimpan harap di map-map bergambar garuda
dan percaya:
jika bekerja sungguh-sungguh,
negara akan bergerak ke arah yang lebih baik.
Tiga puluh delapan tahun tanpa jeda bukan sebentar.
Ia adalah pagi-pagi yang ditahan,
malam-malam yang dikorbankan,
keputusan yang tak selalu disukai,
dan keyakinan yang perlahan aus
oleh suara bising yang tak pernah reda.
Ia adalah pagi-pagi yang ditahan,
malam-malam yang dikorbankan,
keputusan yang tak selalu disukai,
dan keyakinan yang perlahan aus
oleh suara bising yang tak pernah reda.
Kini aku lelah,
bukan oleh kerja,
melainkan oleh riuh.
bukan oleh kerja,
melainkan oleh riuh.
Negara seperti pasar yang tak pernah kering,
ramai oleh tawar-menawar kepentingan.
Suara saling mendahului,
barang tersaji tanpa tertib,
setiap mata mencari peluang,
dan tak jarang timbangan
condong mengikuti hasrat.
ramai oleh tawar-menawar kepentingan.
Suara saling mendahului,
barang tersaji tanpa tertib,
setiap mata mencari peluang,
dan tak jarang timbangan
condong mengikuti hasrat.
Aku bukan membenci,
aku hanya selesai.
aku hanya selesai.
Selesai menggenggam beban
yang tak lagi bisa kuubah
dengan sisa tenaga yang kupunya.
Selesai berharap
pada tujuan yang tak pernah datang.
yang tak lagi bisa kuubah
dengan sisa tenaga yang kupunya.
Selesai berharap
pada tujuan yang tak pernah datang.
Maka hari-hari ini
aku memilih menunduk,
bukan menyerah,
melainkan kembali.
aku memilih menunduk,
bukan menyerah,
melainkan kembali.
Kembali kepada rumah
yang selama ini sabar menunggu.
Kepada wajah istri
yang setia membaca lelah di mataku
tanpa bertanya.
Kepada anak-anak
yang kini berlayar dengan kapal mereka sendiri,
dan seorang cucu
yang tertawa tanpa tahu
apa itu negara,
apa itu politik,
apa itu cercaan.
yang selama ini sabar menunggu.
Kepada wajah istri
yang setia membaca lelah di mataku
tanpa bertanya.
Kepada anak-anak
yang kini berlayar dengan kapal mereka sendiri,
dan seorang cucu
yang tertawa tanpa tahu
apa itu negara,
apa itu politik,
apa itu cercaan.
Di pangkuanku,
dunia kembali sederhana.
dunia kembali sederhana.
Aku belajar lagi
bahwa kebahagiaan
tidak selalu lahir dari pengabdian besar,
tetapi dari hadir sepenuhnya
pada yang dekat.
bahwa kebahagiaan
tidak selalu lahir dari pengabdian besar,
tetapi dari hadir sepenuhnya
pada yang dekat.
Aku ingin berjalan pelan
di tempat yang indah dan sunyi,
mendengar angin tanpa debat,
melihat air mengalir
tanpa harus memberi penjelasan.
di tempat yang indah dan sunyi,
mendengar angin tanpa debat,
melihat air mengalir
tanpa harus memberi penjelasan.
Aku ingin berbincang dengan kawan lama,
menertawakan masa muda,
mengakui kekeliruan
tanpa perlu membela diri.
menertawakan masa muda,
mengakui kekeliruan
tanpa perlu membela diri.
Aku ingin duduk sore hari,
menatap senja,
dan berkata dalam hati:
“Ya Tuhan, terima kasih.
Aku sudah berusaha.”
menatap senja,
dan berkata dalam hati:
“Ya Tuhan, terima kasih.
Aku sudah berusaha.”
Biarlah negara dijaga
oleh mereka yang masih berapi.
Biarlah generasi baru bertarung
dengan caranya sendiri.
oleh mereka yang masih berapi.
Biarlah generasi baru bertarung
dengan caranya sendiri.
Aku tidak pergi karena putus asa,
aku menepi
aku menepi
karena tahu kapan harus berhenti mendayung
dan membiarkan arus berjalan.
dan membiarkan arus berjalan.
Dalam doa yang paling sunyi
aku titipkan negeri ini
bukan pada teriak,
melainkan pada nurani.
aku titipkan negeri ini
bukan pada teriak,
melainkan pada nurani.
Dan untuk diriku sendiri,
aku hanya mohon satu hal:
ketenangan.
aku hanya mohon satu hal:
ketenangan.
Ketenangan untuk menerima
bahwa hidup tidak harus selalu heroik.
Bahwa menua dengan damai
juga sebuah keberanian.
bahwa hidup tidak harus selalu heroik.
Bahwa menua dengan damai
juga sebuah keberanian.
Dan jika kelak namaku pada akhirnya terlupakan,
biarlah.
Aku tak pernah mencari jejak di prasasti,
cukup di ingatan
anak dan cucu
yang tahu:
aku pernah ada,
aku pernah peduli,
dan aku pulang
dengan hati yang utuh.
biarlah.
Aku tak pernah mencari jejak di prasasti,
cukup di ingatan
anak dan cucu
yang tahu:
aku pernah ada,
aku pernah peduli,
dan aku pulang
dengan hati yang utuh.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment