Menyalakan Fajar dari Ruang yang Sunyi
“Menyalakan Fajar dari Ruang yang Sunyi”
— Doa Para Analis Kebijakan yang Tetap Berdiri, Meski Tak Dianggap
— Doa Para Analis Kebijakan yang Tetap Berdiri, Meski Tak Dianggap
Mereka datang dari kota yang berdebu hingga padang yang lengang,
dari lorong-lorong kantor pemerintah yang dingin,
dari ruang kerja yang sempit,
dari lembah sunyi tempat data berserakan menunggu dibaca.
Mereka berkumpul — ingin berbincang, ingin mendengar, ingin berkeluh kesah karena gelisah yang sama:
Bagaimana nasib negeri ini kalau orang-orang yang peduli memilih diam?
Di antara gelas kopi yang mulai dingin
dan kertas-kertas penuh coretan,
mereka membicarakan Indonesia
dengan nada canggung antara harapan dan getir;
antara cinta dan kecewa yang tak sanggup lagi disembunyikan.
Walau langkah mereka sering tak terdengar,
walau suara mereka tak pernah masuk ke ruang keputusan,
walaupun tatapan pejabat melewati mereka
seperti angin yang tak mengakui keberadaan daun—
mereka tetap berjalan.
Tegak.
Tenang.
Seakan berkata kepada dunia:
kalau bukan kami, siapa lagi?
Sebab mereka tahu ada mata rakyat yang memandang
dengan harap kecil yang rapuh;
ada anak-anak yang menunggu masa depan
yang harus lebih aman, lebih terang, lebih manusiawi;
dan ada bangsa yang harus tetap tegak
di tengah gelombang sejarah yang semakin kasar.
Tak ada keistimewaan di pundak mereka,
tak ada anggaran yang menenangkan,
tak ada tangan kekuasaan yang menyambut.
Hanya kerja keras yang sederhana,
hanya nurani yang tidak bisa dikompromikan,
hanya satu kata yang tak pernah hilang: berjuang.
Mereka berdiskusi bukan untuk menjadi terkenal,
melainkan agar Indonesia tidak terperosok.
Mereka mengkritik bukan benci,
melainkan demi negeri yang lebih baik dari hari kemarin.
Mereka menulis, menimbang, memprediksi, dan merumuskan,
bahkan ketika tak seorang pun bertanya
apa yang mereka pikirkan.
Tapi begitulah tugas para penjaga fajar:
bekerja dalam gelap,
agar orang lain bisa melihat terang.
Dan dalam sunyi itu,
mereka melafalkan doa—
doa yang tidak berbahasa istana,
melainkan bahasa jiwa:
Ya Tuhan yang menjaga arah bangsa,
kuatkan langkah kecil kami yang sering dianggap tak berarti.
Jangan biarkan harapan rakyat padam
hanya karena pejabat tak mau mendengar.
Jadikan analisis kami cahaya,
jadikan niat kami jalan,
jadikan cinta kami pada negeri ini ibadah yang Engkau terima.
Karena hidup memang tentang bersujud dalam kerja,
bukan bersandar pada kuasa.
Tentang menanam gagasan yang mungkin baru tumbuh
setelah kita tiada.
Tentang percaya bahwa secercah data,
secuil ide,
sepotong keberanian,
bisa menyelamatkan generasi.
Dan kelak, ketika Indonesia memetik hasilnya,
tak apa bila nama mereka tetap hilang ditelan arsip.
Yang penting negeri ini berdiri.
Yang penting anak-anak itu tumbuh.
Yang penting bangsa ini selamat.
Maka berjalanlah terus, para penjaga akal dan nurani.
Sesunyi apa pun langkahmu, langit mencatatnya.
Seterjal apa pun jalannya, Tuhan mendengar tekadmu.
Karena fajar tidak pernah lahir dari panggung megah—
tapi dari kesunyian orang-orang yang tak pernah berhenti percaya.
ⒷⒽⓌ
dari lorong-lorong kantor pemerintah yang dingin,
dari ruang kerja yang sempit,
dari lembah sunyi tempat data berserakan menunggu dibaca.
Mereka berkumpul — ingin berbincang, ingin mendengar, ingin berkeluh kesah karena gelisah yang sama:
Bagaimana nasib negeri ini kalau orang-orang yang peduli memilih diam?
Di antara gelas kopi yang mulai dingin
dan kertas-kertas penuh coretan,
mereka membicarakan Indonesia
dengan nada canggung antara harapan dan getir;
antara cinta dan kecewa yang tak sanggup lagi disembunyikan.
Walau langkah mereka sering tak terdengar,
walau suara mereka tak pernah masuk ke ruang keputusan,
walaupun tatapan pejabat melewati mereka
seperti angin yang tak mengakui keberadaan daun—
mereka tetap berjalan.
Tegak.
Tenang.
Seakan berkata kepada dunia:
kalau bukan kami, siapa lagi?
Sebab mereka tahu ada mata rakyat yang memandang
dengan harap kecil yang rapuh;
ada anak-anak yang menunggu masa depan
yang harus lebih aman, lebih terang, lebih manusiawi;
dan ada bangsa yang harus tetap tegak
di tengah gelombang sejarah yang semakin kasar.
Tak ada keistimewaan di pundak mereka,
tak ada anggaran yang menenangkan,
tak ada tangan kekuasaan yang menyambut.
Hanya kerja keras yang sederhana,
hanya nurani yang tidak bisa dikompromikan,
hanya satu kata yang tak pernah hilang: berjuang.
Mereka berdiskusi bukan untuk menjadi terkenal,
melainkan agar Indonesia tidak terperosok.
Mereka mengkritik bukan benci,
melainkan demi negeri yang lebih baik dari hari kemarin.
Mereka menulis, menimbang, memprediksi, dan merumuskan,
bahkan ketika tak seorang pun bertanya
apa yang mereka pikirkan.
Tapi begitulah tugas para penjaga fajar:
bekerja dalam gelap,
agar orang lain bisa melihat terang.
Dan dalam sunyi itu,
mereka melafalkan doa—
doa yang tidak berbahasa istana,
melainkan bahasa jiwa:
Ya Tuhan yang menjaga arah bangsa,
kuatkan langkah kecil kami yang sering dianggap tak berarti.
Jangan biarkan harapan rakyat padam
hanya karena pejabat tak mau mendengar.
Jadikan analisis kami cahaya,
jadikan niat kami jalan,
jadikan cinta kami pada negeri ini ibadah yang Engkau terima.
Karena hidup memang tentang bersujud dalam kerja,
bukan bersandar pada kuasa.
Tentang menanam gagasan yang mungkin baru tumbuh
setelah kita tiada.
Tentang percaya bahwa secercah data,
secuil ide,
sepotong keberanian,
bisa menyelamatkan generasi.
Dan kelak, ketika Indonesia memetik hasilnya,
tak apa bila nama mereka tetap hilang ditelan arsip.
Yang penting negeri ini berdiri.
Yang penting anak-anak itu tumbuh.
Yang penting bangsa ini selamat.
Maka berjalanlah terus, para penjaga akal dan nurani.
Sesunyi apa pun langkahmu, langit mencatatnya.
Seterjal apa pun jalannya, Tuhan mendengar tekadmu.
Karena fajar tidak pernah lahir dari panggung megah—
tapi dari kesunyian orang-orang yang tak pernah berhenti percaya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment