Pelajaran Sunyi dari Hujan

 “Pelajaran Sunyi dari Hujan”


Butir-butir hujan turun berbaris rapi,
tidak saling mendahului,
tidak berebut jatuh.
Ia tahu kadar,
tahu waktu,
cukup membasahi bunga yang dahaga
tanpa melukai kelopak yang rapuh.

Burung kecil berlindung di dedaunan,
menyusun diamnya dengan tenang.
Ia tidak cemas pada langit yang menggelap,
sebab ia tahu:
tidak ada hujan yang berniat menenggelamkan,
jika bumi masih dijaga keseimbangannya.

Di balik kulit pohon,
ulat terbangun dari sunyi,
menjalani takdirnya tanpa tergesa.
Hujan memanggilnya pulang ke hidup,
menjadi janji yang pelan-pelan
akan menjelma sayap.

Serangga kecil meneguk embun
seperti doa yang tak diucapkan,
akar merentangkan serabutnya
menyambut anugerah
tanpa meminta lebih.
Semua menerima
sesuai ukuran yang dititipkan.

Hujan tidak ingin berkuasa,
ia hanya menjalankan peran.
Matahari pun tahu kapan harus mengalah,
awan tahu kapan harus berpisah.
Langit dan bumi berbagi tugas
tanpa saling meniadakan.

Alam tidak berisik,
namun teratur.
Tidak serakah,
namun cukup.
Ia tidak memaksakan kehendak,
karena ia tunduk
pada hukum yang lebih tinggi.

Lalu manusia datang
dengan ambisi yang gaduh,
sering lupa berhenti,
sering lupa cukup.
Mengira alam harus selalu menyesuaikan,
padahal kitalah
yang lupa belajar mendengar.

Hujan mengajarkan kerendahan hati:
bahwa memberi tidak harus berlebihan,
bahwa berhenti juga bagian dari kebijaksanaan.
Bahwa keseimbangan
adalah bentuk tertinggi dari kasih.

Dan dalam sunyi yang menyejukkan itu,
kita diingatkan—
bahwa seluruh semesta ini
adalah tasbih yang bergerak,
setiap tetes hujan adalah doa,
setiap makhluk adalah ayat.

Tuhan tidak menciptakan alam
untuk ditaklukkan,
melainkan untuk dipelajari.
Tidak untuk dikuasai,
melainkan untuk dijaga.

Barang siapa hidup selaras dengan alam,
ia sedang belajar hidup selaras dengan Tuhannya.
Dan barang siapa merendahkan diri
di hadapan ciptaan,
akan ditinggikan
oleh Sang Pencipta.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts