QARUN MODERN
”QARUN MODERN”
Di lorong kekuasaan yang berkilau lampu,
lahir Qarun-qarun baru
bukan dari peti emas,
tetapi dari meja anggaran,
tanda tangan, dan kuasa.
Mereka datang dengan sumpah,
pergi dengan lupa.
Di bibir terucap amanah,
di tangan tumbuh kerakusan.
“Aku berhasil karena kepintaranku,” katanya,
seperti Qarun dulu berkata,
seakan langit tak ikut bekerja,
seakan doa rakyat tak pernah naik.
Padahal kekuasaan
bukan milik tangan,
ia hanya titipan waktu
yang bisa diambil kapan saja.
⸻
Wahai pejabat,
jangan ukur dirimu dari mobil yang kau naiki,
rumah yang kau timbun,
atau tepuk tangan yang kau beli.
Sebab bumi pernah membuka mulutnya
tanpa suara,
dan menelan satu manusia
beserta bangganya.
Yang ditelan bukan emasnya,
tetapi kesombongannya.
⸻
Kesalahan Qarun
bukan pada hartanya,
melainkan pada hatinya
yang menolak bersujud.
Ia lupa:
jabatan adalah ujian,
bukan mahkota;
wewenang adalah amanah,
bukan lisensi.
Kerakusan tumbuh
ketika syukur mati.
Kezaliman lahir
ketika takut kehilangan dunia
lebih besar
daripada takut kehilangan Tuhan.
⸻
Belajarlah,
sebelum bumi kembali mengingatkan.
Hindari merasa paling berjasa,
karena kekuasaan tak pernah lahir sendiri.
Jauhi memakan hak yang bukan milikmu,
karena setiap suap
adalah doa orang kecil
yang berubah menjadi tuntutan langit.
Jangan jadikan jabatan
tangga menuju kekayaan,
jadikan ia jembatan
menuju keberkahan.
⸻
Berbahagialah mereka
yang pulang dari kekuasaan
dengan tangan bersih,
nama yang ringan,
dan hati yang utuh.
Sebab tak semua pejabat
selamat dari ujian dunia,
dan tak semua Qarun
sadar sebelum ditelan sunyi.
⸻
Tuhan tidak melarang kita berkuasa,
Tuhan hanya mengingatkan:
jangan kau warisi
nasib Qarun
dalam rupa yang lebih modern.
ⒷⒽⓌ
lahir Qarun-qarun baru
bukan dari peti emas,
tetapi dari meja anggaran,
tanda tangan, dan kuasa.
Mereka datang dengan sumpah,
pergi dengan lupa.
Di bibir terucap amanah,
di tangan tumbuh kerakusan.
“Aku berhasil karena kepintaranku,” katanya,
seperti Qarun dulu berkata,
seakan langit tak ikut bekerja,
seakan doa rakyat tak pernah naik.
Padahal kekuasaan
bukan milik tangan,
ia hanya titipan waktu
yang bisa diambil kapan saja.
⸻
Wahai pejabat,
jangan ukur dirimu dari mobil yang kau naiki,
rumah yang kau timbun,
atau tepuk tangan yang kau beli.
Sebab bumi pernah membuka mulutnya
tanpa suara,
dan menelan satu manusia
beserta bangganya.
Yang ditelan bukan emasnya,
tetapi kesombongannya.
⸻
Kesalahan Qarun
bukan pada hartanya,
melainkan pada hatinya
yang menolak bersujud.
Ia lupa:
jabatan adalah ujian,
bukan mahkota;
wewenang adalah amanah,
bukan lisensi.
Kerakusan tumbuh
ketika syukur mati.
Kezaliman lahir
ketika takut kehilangan dunia
lebih besar
daripada takut kehilangan Tuhan.
⸻
Belajarlah,
sebelum bumi kembali mengingatkan.
Hindari merasa paling berjasa,
karena kekuasaan tak pernah lahir sendiri.
Jauhi memakan hak yang bukan milikmu,
karena setiap suap
adalah doa orang kecil
yang berubah menjadi tuntutan langit.
Jangan jadikan jabatan
tangga menuju kekayaan,
jadikan ia jembatan
menuju keberkahan.
⸻
Berbahagialah mereka
yang pulang dari kekuasaan
dengan tangan bersih,
nama yang ringan,
dan hati yang utuh.
Sebab tak semua pejabat
selamat dari ujian dunia,
dan tak semua Qarun
sadar sebelum ditelan sunyi.
⸻
Tuhan tidak melarang kita berkuasa,
Tuhan hanya mengingatkan:
jangan kau warisi
nasib Qarun
dalam rupa yang lebih modern.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment