Suara yang Membuka Langit
”Suara yang Membuka Langit”
— Saat Teknik Vokal Menuntun Ruh ke Hadirat-Nya
Ada hari ketika aku berlatih nada tinggi
bukan untuk memamerkan suara
bukan untuk tepuk tangan manusia
hanya ingin mengenal tubuh yang Kau titipkan
dan suara yang Kau hembuskan ke dalam dada
Aku memulai dari pernapasan
menarik udara perlahan
seolah mengundang kehidupan
menurunkannya ke dasar perut
ke tempat suara dilahirkan
ke tempat sabar tumbuh
Dan ketika embusan keluar
aku belajar melepas
belajar percaya
Lalu latihan berpindah ke ruang kepala
Suara naik, menembus langit-langit
menggantung di rongga sunyi
yang selama ini tak kusadari
ada di dalam diriku
Getaran itu naik lebih jauh lagi
ke titik terang di puncak kepala
tempat para sufi menyebutnya mahkota ruhani
tempat yogi menamainya sahasrara
tempat para pecinta Tuhan menyebutnya
pintu cahaya menuju Yang Maha Cahaya
Di sana
aku merasakan sesuatu yang lapang
seperti ribuan jendela dibuka sekaligus
angin lembut rahmat masuk
membawa ketenangan yang tak bisa dijelaskan
dengan ilmu, teori, atau logika
Ajaib, ya Rabb…
yang kulatih adalah teknik vokal
yang datang justru kehadiran-Mu
yang kucari adalah kontrol suara
yang kudapat adalah tunduknya jiwa
Aku hanya ingin menyanyi lebih baik
namun Engkau membuatku menyembah lebih dalam
Ketika nada melengking
dan getaran menyentuh mahkota sunyi itu
tubuhku seolah menjadi ruang ibadah
Disebut cakra oleh sebagian
disebut laduni oleh sebagian lainnya
aku menyebutnya saja:
tempat jiwa menerimaMu
Setiap resonansi adalah dzikir
Setiap napas panjang adalah tasbih
Setiap fokus adalah syukur
Tanpa aku menyebut nama-Mu
hati sudah memanggil-Mu lebih dulu
Dan aku memahami rahasia kecil ini:
Latihan vokal hanyalah jalan dunia
Namun Engkau menjadikannya tangga surga
Jika hati ikut bernyanyi
Jika niat ikut bergerak
maka yang terdengar bukan lagi suaraku
melainkan gema kelembutan-Mu
Ya Allah…
Engkau memberi rahmat sesuai kehendak-Mu
lewat cara yang tak kusangka
Kadang lewat doa
Kadang lewat air mata
Dan kadang—betapa luar biasanya—
Engkau turunkan ruh khusyuk
melalui satu nada
yang melesat ke langit
melalui satu getaran
yang mengetuk mahkota ruh di ubun-ubun
Kini setiap kali aku bernyanyi
aku mengingat
bahwa suara ini bukan milikku
bahwa getaran di kepala adalah panggilan
bahwa fokus di satu titik adalah undangan
untuk hadir, taat, dan tenggelam
dalam hadirat-Mu
Jika suara bisa menjadi jalan
maka diam pun adalah tujuan
Dan ketika aku berdiri menghadap-Mu
dalam sholat yang suci
aku menarik napas seperti saat berlatih
aku menenangkan kepala seperti saat menyanyi
dan tiba-tiba
khusyuk datang
mudah
lembut
dan penuh cahaya
Karena aku tahu kini—
menyanyi bisa menjadi sujud
jika hati yang bernyanyi adalah hati yang kembali
kepada-Mu
ⒷⒽⓌ
— Saat Teknik Vokal Menuntun Ruh ke Hadirat-Nya
Ada hari ketika aku berlatih nada tinggi
bukan untuk memamerkan suara
bukan untuk tepuk tangan manusia
hanya ingin mengenal tubuh yang Kau titipkan
dan suara yang Kau hembuskan ke dalam dada
Aku memulai dari pernapasan
menarik udara perlahan
seolah mengundang kehidupan
menurunkannya ke dasar perut
ke tempat suara dilahirkan
ke tempat sabar tumbuh
Dan ketika embusan keluar
aku belajar melepas
belajar percaya
Lalu latihan berpindah ke ruang kepala
Suara naik, menembus langit-langit
menggantung di rongga sunyi
yang selama ini tak kusadari
ada di dalam diriku
Getaran itu naik lebih jauh lagi
ke titik terang di puncak kepala
tempat para sufi menyebutnya mahkota ruhani
tempat yogi menamainya sahasrara
tempat para pecinta Tuhan menyebutnya
pintu cahaya menuju Yang Maha Cahaya
Di sana
aku merasakan sesuatu yang lapang
seperti ribuan jendela dibuka sekaligus
angin lembut rahmat masuk
membawa ketenangan yang tak bisa dijelaskan
dengan ilmu, teori, atau logika
Ajaib, ya Rabb…
yang kulatih adalah teknik vokal
yang datang justru kehadiran-Mu
yang kucari adalah kontrol suara
yang kudapat adalah tunduknya jiwa
Aku hanya ingin menyanyi lebih baik
namun Engkau membuatku menyembah lebih dalam
Ketika nada melengking
dan getaran menyentuh mahkota sunyi itu
tubuhku seolah menjadi ruang ibadah
Disebut cakra oleh sebagian
disebut laduni oleh sebagian lainnya
aku menyebutnya saja:
tempat jiwa menerimaMu
Setiap resonansi adalah dzikir
Setiap napas panjang adalah tasbih
Setiap fokus adalah syukur
Tanpa aku menyebut nama-Mu
hati sudah memanggil-Mu lebih dulu
Dan aku memahami rahasia kecil ini:
Latihan vokal hanyalah jalan dunia
Namun Engkau menjadikannya tangga surga
Jika hati ikut bernyanyi
Jika niat ikut bergerak
maka yang terdengar bukan lagi suaraku
melainkan gema kelembutan-Mu
Ya Allah…
Engkau memberi rahmat sesuai kehendak-Mu
lewat cara yang tak kusangka
Kadang lewat doa
Kadang lewat air mata
Dan kadang—betapa luar biasanya—
Engkau turunkan ruh khusyuk
melalui satu nada
yang melesat ke langit
melalui satu getaran
yang mengetuk mahkota ruh di ubun-ubun
Kini setiap kali aku bernyanyi
aku mengingat
bahwa suara ini bukan milikku
bahwa getaran di kepala adalah panggilan
bahwa fokus di satu titik adalah undangan
untuk hadir, taat, dan tenggelam
dalam hadirat-Mu
Jika suara bisa menjadi jalan
maka diam pun adalah tujuan
Dan ketika aku berdiri menghadap-Mu
dalam sholat yang suci
aku menarik napas seperti saat berlatih
aku menenangkan kepala seperti saat menyanyi
dan tiba-tiba
khusyuk datang
mudah
lembut
dan penuh cahaya
Karena aku tahu kini—
menyanyi bisa menjadi sujud
jika hati yang bernyanyi adalah hati yang kembali
kepada-Mu
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment