Amanah di Puncak Sunyi
“Amanah di Puncak Sunyi”
Bukan tepuk tangan
yang mengantar engkau naik,
melainkan sunyi panjang
yang kini harus kau pikul.
Promosi jabatan
bukan tangga menuju kemuliaan,
ia adalah salib yang dipikul diam-diam,
di hadapan negara,
di bawah langit sumpah jabatan,
dan di mata rakyat
yang jarang bersuara
namun selalu mencatat.
Di meja kerja itu
tersimpan bukan hanya berkas dan angka,
tetapi nasib orang kecil
yang hidupnya bergantung
pada satu tanda tanganmu.
Jabatan pimpinan tinggi
bukan mahkota,
melainkan luka terbuka
yang menuntut kejujuran
setiap hari.
Karena negara
bukan sekadar institusi,
ia adalah ibu
yang harus kau jaga kehormatannya.
Pemerintah
bukan alat kuasa,
ia adalah titipan,
yang suatu hari
akan dimintai pertanggungjawaban
di hadapan hukum,
dan di hadapan Tuhan.
Namun yang paling berat
adalah tanggung jawab
kepada masyarakat—
mereka yang tak mengenalmu,
namun hidupnya kau pengaruhi.
Ketika pemerintah dan rakyat
berdiri saling berhadapan,
ingatlah:
yang retak bukan suara,
melainkan kepercayaan.
Dan di situlah
integritas diuji
bukan oleh lawan,
melainkan oleh godaan
untuk memilih aman
daripada benar.
Banyak pemimpin daerah
jatuh bukan karena tidak cerdas,
melainkan karena lupa
bahwa jabatan
bukan warisan keluarga,
bukan ladang balas jasa,
bukan ruang gelap KKN
yang dibungkus dalih pembangunan.
Korupsi tidak selalu berteriak,
ia sering datang lembut
sebagai “kompromi kecil”,
sebagai “semua juga begitu”,
sebagai “sekadar bagian”.
Dan di sanalah
amanah mulai ternodai
perlahan,
nyaris tak terasa,
hingga negara berdarah
tanpa jeritan.
Padahal amanah itu suci.
Ia lahir dari kepercayaan,
dan mati oleh pengkhianatan.
Masa depan tidak dibentuk
oleh pidato,
melainkan oleh keputusan sunyi
yang kau ambil
saat tak ada kamera,
tak ada saksi,
kecuali nuranimu sendiri.
Jika engkau jujur,
sejarah mungkin tidak mengingat namamu,
namun anak-anak akan hidup
dalam negeri yang lebih adil.
Jika engkau berani,
engkau mungkin sendiri,
namun kebenaran
tak pernah butuh kerumunan.
Maka berdirilah
sebagai pemimpin
yang takut pada dosa
lebih dari takut kehilangan jabatan.
Karena jabatan akan berakhir,
tetapi pertanggungjawaban
tidak.
Dan di hadapan waktu,
hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apakah engkau memegang amanah,
atau hanya memegang kekuasaan?
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment