Cermin yang Kutemukan di Negeri China
”Cermin yang Kutemukan di Negeri China”
— Catatan Perjalanan tentang Prasangka, Kerja Keras, dan Iman yang Belajar Bercermin
Aku datang membawa koper
dan prasangka yang tak pernah kukemas sendiri.
Ia diwariskan,
dari obrolan warung,
dari judul berita,
dari bisik-bisik yang merasa paling tahu
tanpa pernah berjalan sejauh ini.
Di negeri itu,
orang-orang bangun lebih pagi dari matahari.
Bukan untuk mengeluh,
tapi untuk bekerja
seolah hidup harus dijawab
dengan kesungguhan.
Mereka tidak banyak berbicara tentang nasib,
mereka menata hari
dengan disiplin yang tenang.
Tidak tergesa,
tidak manja pada keadaan.
Ulet,
seperti air yang tak marah
ketika harus mengikis batu.
Aku melihat tangan-tangan kasar
yang tidak malu oleh lelah.
Wajah-wajah yang tidak memamerkan iman,
namun jujur pada tanggung jawab.
Dan aku bertanya dalam diam:
bukankah kerja adalah doa
yang paling sering kita lupakan?
Lalu aku teringat rumah.
Di sana,
kami sering lebih rajin berprasangka
daripada berusaha.
Lebih lihai menyalahkan
daripada belajar.
Lebih cepat menunjuk orang lain
daripada bercermin.
Kami berkata:
“mereka curang,”
sambil menormalisasi jalan pintas.
Kami berkata:
“mereka pelit,”
sambil menyia-nyiakan amanah.
Kami berkata:
“mereka tidak berperikemanusiaan,”
sambil lalai pada tanggung jawab sendiri.
Betapa mudahnya iman
menjadi tameng kemalasan.
Betapa sering doa
menjadi pengganti kerja.
Seolah Tuhan bertugas
menyelesaikan apa yang enggan kami upayakan.
Di sana aku belajar:
disiplin bukan dingin,
ia adalah cinta yang teratur.
Kerja keras bukan ketiadaan spiritualitas,
ia adalah kesetiaan
pada tugas hari ini.
Dan aku sadar,
prasangka bukan tentang mereka.
Ia adalah cara kita
menghindari pertanyaan yang menyakitkan:
sudahkah kita sungguh-sungguh?
Tuhan tidak menciptakan bangsa
untuk saling merendahkan,
tetapi untuk saling belajar.
Dan kadang,
pelajaran paling jujur
datang dari negeri
yang selama ini kita curigai.
Aku pulang
dengan koper yang sama,
namun iman yang lebih dewasa.
Bukan iman yang merasa paling benar,
melainkan iman yang berani bercermin
dan berubah.
Sebab spiritualitas
yang tidak melahirkan etos,
hanyalah wacana suci
yang kehilangan kaki.
Dan kerja keras
tanpa kejujuran batin,
hanyalah mesin tanpa arah.
Maka biarlah kita berhenti
mengutuk cermin.
Lebih baik bertanya pelan-pelan:
jika mereka bisa setangguh itu
tanpa banyak alasan,
mengapa kita—
yang merasa paling diberkahi—
sering kali menyerah
bahkan sebelum mencoba?
Dan mungkin,
di situlah doa yang sebenarnya bermula.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment