Demokrasi yang Mendengar
”Demokrasi yang Mendengar”
Demokrasi lahir dari telinga yang terbuka,
bukan dari bilik suara semata.
Menang bukan akhir dari mendengar,
ia justru awal dari tanggung jawab.
Namun setelah pesta usai,
suara rakyat sering diletakkan di gudang,
dipanggil hanya saat legitimasi dibutuhkan,
lalu dilupakan saat nurani menuntut jawaban.
Buzzer dirawat seperti pasukan,
oposisi dibingkai sebagai musuh,
rakyat dibenturkan dengan rakyat,
agar kuasa tampak perlu dan tak tergugat.
Hukum dipelintir menjadi alat,
putusan dipilih sesuai kepentingan,
keadilan kehilangan suara,
dan kebenaran diminta untuk diam.
Lalu siapa yang harus berdiri?
Bukan hanya mereka yang kalah,
tetapi mereka yang masih setia
pada makna republik dan akal sehat.
Yang harus maju bukan satu tokoh,
melainkan keberanian kolektif:
akademisi yang jujur,
hakim yang tegak,
pemuka yang bersih,
warga yang tak lelah berpikir.
Dan bila tak ada yang mau melangkah,
sejarah akan tetap berjalan—
tanpa izin, tanpa belas kasihan,
meninggalkan generasi yang memilih diam.
Namun harapan selalu diselipkan Tuhan
di hati yang menolak putus asa.
Demokrasi bisa disembuhkan,
jika ia kembali belajar mendengar.
Karena kekuasaan sejati bukan yang paling keras,
melainkan yang paling sanggup merendah,
mendengar, mengoreksi diri,
dan bertanggung jawab di hadapan rakyat
serta di hadapan Yang Maha Mengetahui.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment