Di Musim Salju Pittsburgh
“Di Musim Salju Pittsburgh”
Tiga puluh tahun lalu,
salju jatuh perlahan di Pittsburgh,
dingin menembus mantel,
namun ruang itu hangat
oleh tujuh pasang mata
yang menatap bukan untuk menghakimi,
melainkan menimbang masa depan.
Di hadapan mereka
aku berdiri—
bukan hanya membawa disertasi,
tetapi kegamangan, harap,
dan keberanian yang masih mentah.
Kini mereka telah tiada.
Satu per satu kembali
ke sunyi yang lebih luas dari kampus,
lebih hening dari ruang sidang akademik.
Namun suara mereka
tak pernah benar-benar pergi.
Mereka mengajariku
bahwa ilmu bukan menara,
melainkan jalan panjang
yang berliku dan sering membuat lutut berdarah.
Bahwa berpikir adalah kerja sunyi,
dan kesimpulan
harus lahir dengan kerendahan hati.
Mereka menekan,
bukan untuk meruntuhkan,
tetapi agar egoku retak
dan cahaya bisa masuk.
Mereka membiarkanku jatuh,
supaya aku tahu
bangkit bukanlah aib.
Nama-nama besar,
namun tangan mereka ringan,
sabar menuntun kalimatku yang goyah,
argumenku yang terlalu yakin,
dan diamku yang terlalu cepat puas.
Bahkan ketika anak-anakku lahir
di tanah asing itu,
mereka tetap ada—
bukan hanya sebagai profesor,
tetapi sebagai penjaga nilai,
bahwa kehidupan dan ilmu
tak pernah terpisah.
Kini, setelah tiga dekade,
aku tahu:
apa yang mereka wariskan
bukan sekadar metode atau teori,
melainkan cara menjadi manusia
yang berpikir sebelum berbicara,
ragu sebelum menyimpulkan,
dan terus belajar
bahkan ketika gelar telah lama disandang.
Seandainya waktu bisa diputar,
aku akan datang kembali
bukan dengan disertasi,
melainkan dengan pertanyaan-pertanyaan baru—
sebab ilmu yang sejati
tak pernah selesai.
Untuk kalian, para guru,
yang kini beristirahat dalam keabadian:
setiap pikiranku yang jujur,
setiap kehati-hatian dalam kata,
setiap kerendahan dalam pencapaian—
adalah doa yang terus kupanjatkan
tanpa suara.
Salju mungkin telah lama mencair,
namun jejak langkah kalian
tak pernah hilang
di dalam diriku.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment