DOA RAKYAT DI AMBANG PUTUS ASA

 ”DOA RAKYAT DI AMBANG PUTUS ASA”


Kami rakyat kecil
berdiri di pinggir hari
dengan perut lapar dan dada penuh tanya.
Hidup terasa makin sempit,
sementara janji-janji berhamburan
seperti spanduk lusuh
yang dilipat setelah pesta kekuasaan usai.

Kami berharap—
bukan kemewahan,
bukan istana,
bukan pidato panjang berbunga-bunga.
Kami hanya ingin hidup layak,
aman berjalan di jalan sendiri,
tenang menyekolahkan anak,
bernapas tanpa takut,
dan pulang tanpa cemas.

Tapi mengapa negeri ini
terasa jauh dari tangan kami sendiri?
Mengapa hukum tumpul ke atas,
tajam ke bawah?
Mengapa korupsi seperti wabah
yang diwariskan dari kursi ke kursi,
dari partai ke partai,
dari kekuasaan ke kekuasaan?

Kami melihat
jabatan dijadikan dagangan,
amanah diperdagangkan di ruang gelap,
dan penderitaan rakyat
sekadar angka dalam laporan rapat.

Kami bertanya dengan suara gemetar:
Apa benar kalian memikirkan kami?
Apa benar kalian kompeten?
Atau kami hanya alat
untuk menaikkan kalian
ke singgasana lima tahunan?

Wahai para pemimpin,
ingatlah—
kekuasaan bukan warisan leluhur,
bukan hadiah partai,
bukan pula hasil kelicikan.
Ia adalah titipan Tuhan
yang akan ditagih
hingga ke niat terdalam.

Dengarlah jerit yang tak sempat viral,
lihatlah rumah yang roboh tanpa kamera,
rasakanlah lapar
yang tak masuk statistik.
Sebab doa orang teraniaya
tak punya jarak ke langit.

Jangan bangun istana
di atas air mata.
Jangan kokohkan kekuasaan
dengan menginjak yang lemah.
Sebab satu kezhaliman kecil
yang kau anggap sepele
bisa menjelma api
di akhir perjalananmu.

Ingatlah neraka
bukan dongeng untuk rakyat,
tetapi peringatan keras
bagi pemimpin yang mengkhianati amanah.
Dan ingat pula—
surga bukan milik mereka
yang pandai berbicara,
tetapi yang jujur bekerja
dan berani membela kebenaran.

Namun kami belum menyerah.
Di tengah putus asa,
kami masih menyimpan doa.
Sebab sejarah selalu melahirkan
pemimpin bijak
dari rahim penderitaan panjang.

Kami percaya
masih ada nurani
yang belum dibeli,
masih ada tangan bersih
yang mau turun ke luka rakyat,
masih ada pemimpin
yang takut kepada Tuhan
lebih dari takut kehilangan jabatan.

Wahai pemimpin,
jika engkau ingin dikenang,
jangan bangun namamu di prasasti,
bangunlah kesejahteraan di hati rakyat.
Jika engkau ingin mulia,
rendahkanlah dirimu
di hadapan penderitaan kami.

Dan kepada sesama rakyat,
jangan matikan harapan.
Negeri ini bukan milik penguasa semata.
Ia lahir dari darah, doa, dan pengorbanan
orang-orang biasa
yang tak pernah menyerah.

Kami akan terus bersuara,
berdoa, dan menjaga nurani.
Sebab pada akhirnya,
keadilan mungkin tertunda,
tetapi kebenaran
tak pernah benar-benar kalah.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts