Hidup Menemukan Jalannya
”Hidup Menemukan Jalannya”
Di bandara kecil,
kursi-kursi bernomor seperti takdir
yang dibagikan tergesa,
keluarga tercerai oleh baris dan angka,
wajah-wajah mengeras oleh kecewa.
Petugas berdiri di batas kewenangan,
tangan terikat aturan,
mata menampung keluhan,
namun tak mampu menyulam ulang peta duduk
yang terlanjur kusut.
Ruang tunggu dipenuhi desah,
keluh yang berputar-putar,
seolah dunia tak adil pagi itu.
Namun saat kaki melangkah ke perut pesawat,
sesuatu yang tak tertulis mulai bekerja.
Orang-orang saling menatap,
senyum kecil menggantikan kening berkerut,
kata-kata sederhana dilontarkan:
“Boleh tukar?”
“Anak saya di sana.”
“Silakan, Pak.”
Tanpa aba-aba,
tanpa komando,
tanpa prosedur panjang,
kekacauan mulai bernapas teratur.
Kursi berpindah,
tas terangkat,
manusia saling mengalah,
dan perlahan—
setiap jiwa menemukan tempatnya.
Tak sempurna,
tak persis seperti rencana,
namun cukup.
Cukup untuk tenang.
Cukup untuk berangkat.
Di situlah hidup berbisik pelan:
bahwa tidak semua keteraturan
lahir dari kendali,
bahwa tidak semua solusi
datang dari kuasa.
Kadang,
ketika ego dilembutkan,
ketika takut ditanggalkan,
ketika manusia saling percaya,
hidup menemukan jalannya sendiri.
Yang semula kacau
tak selalu berakhir rusak.
Yang berawal salah tempat
masih bisa pulang.
Seperti kursi di pesawat itu,
seperti doa yang tak kita atur kata-katanya,
namun tetap sampai
ke tujuan yang benar.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment