HIJRAH DARI HEGEMONI
”HIJRAH DARI HEGEMONI”
— Puisi tentang Kekuasaan, Ketakutan, dan Keberanian Rakyat
I. Mekah yang Makmur, Tapi Sunyi Nurani
Mekah kala itu bukan kota bodoh,
ia kaya, terhubung, pusat dagang dan doa.
Berhala-berhala bukan sekadar patung,
mereka adalah aset,
jaminan arus uang, legitimasi kuasa,
dan alasan agar para elite tetap duduk di singgasana.
Semua suku menitipkan tuhannya di Kaabah,
agar perdagangan aman,
agar kekuasaan stabil,
agar yang kuat tetap kuat
dan yang lemah tetap patuh.
Maka ketika Muhammad lahir,
itu bukan ancaman bagi akidah—
akidah di Mekah sudah plural sejak lama.
Satu Tuhan baru bukan masalah.
Yang jadi masalah adalah keadilan.
Yang jadi ancaman adalah kesetaraan.
Yang menakutkan adalah kalimat sederhana:
tidak ada manusia yang pantas diperbudak manusia lain.
⸻
II. Ketika Kebenaran Mengusik Tahta
Muhammad tidak datang membawa pedang,
ia datang membawa makna.
Dan makna lebih berbahaya
daripada senjata.
Karena makna meruntuhkan ketakutan.
Karena makna membuat budak bertanya,
orang miskin berdiri tegak,
dan penguasa gelisah di balik tirainya.
Maka teror pun dimulai.
Bukan debat jujur,
bukan hukum adil,
tapi bisik ancaman,
fitnah gelap,
dan rencana pembunuhan.
Bukan karena iman terancam,
melainkan karena monopoli kuasa retak.
Hijrah pun terjadi—
bukan lari dari perjuangan,
melainkan strategi sejarah
agar kebenaran tetap hidup.
⸻
III. Indonesia Hari Ini: Cermin yang Retak
Hari ini kita bercermin
dan melihat wajah yang mirip.
Negeri yang kaya,
pasar yang besar,
agama yang beragam,
tapi kekuasaan terkonsentrasi
pada segelintir nama
dan jaringan tak terlihat.
Usulan perubahan dianggap ancaman.
Kritik dilabeli pengkhianatan.
Suara rakyat dibalas intimidasi,
oleh tangan-tangan pengecut
yang bersembunyi di balik gelap,
mengaku membela negara
padahal menjaga kerakusan.
Mereka menakut-nakuti,
karena mereka takut.
Mereka mengancam,
karena mereka rapuh.
Negara tidak membutuhkan preman moral.
Negara hanya butuh hukum yang adil
dan keberanian menegakkannya.
⸻
IV. Tentang Kekuasaan yang Selalu Takut
Setiap kekuasaan yang lama menumpuk
akan lupa cara mendengar.
Ia mulai mencurigai bisikan nurani,
menganggap pertanyaan sebagai ancaman,
dan melihat kejujuran
sebagai musuh yang harus disingkirkan.
Di titik itu,
kekuasaan tidak lagi menjaga negara,
melainkan menjaga dirinya sendiri.
Dan sejak saat itu,
ketakutanlah yang sebenarnya memerintah.
⸻
V. Sikap Rakyat: Jalan Sunyi yang Tegak
Lalu bagaimana rakyat harus bersikap?
Bukan dengan kebencian,
karena kebencian membuat kita serupa.
Bukan dengan kekerasan,
karena kekerasan adalah bahasa orang kalah.
Rakyat harus jernih.
Bersatu dalam nilai, bukan dalam amarah.
Teguh menyuarakan kebenaran,
tanpa kehilangan akhlak.
Karena sejarah mengajarkan:
kekuasaan runtuh bukan oleh teriakan,
melainkan oleh ketekunan moral.
Diamlah dari fitnah,
tapi bersuara lantang pada ketidakadilan.
Tak gentar oleh ancaman,
karena hidup tanpa kebenaran
adalah kematian yang ditunda.
⸻
VI. Hukum Sunyi Sejarah
Sejarah memiliki hukum yang tak tertulis:
setiap zaman akan diuji
oleh keberanian manusia-manusianya.
Bukan oleh senjata,
bukan oleh jumlah,
melainkan oleh siapa
yang berani berdiri tegak
ketika kebenaran membuatnya sendirian.
Di saat seperti itulah,
Tuhan tidak turun dengan petir,
Ia turun sebagai nurani
di dada manusia biasa.
⸻
VII. Doa yang Menjadi Tindakan
Tuhan tidak meminta kita menang cepat,
Ia meminta kita benar.
Dan kebenaran,
meski lambat,
selalu menemukan jalannya—
seperti air yang sabar
mengikis batu paling angkuh.
Jika hari ini suara pengkritik semakin banyak,
itu bukan tanda kekacauan,
itu tanda nurani masih hidup.
Dan jika para pengecut semakin gelap,
itu tanda fajar
sedang mendekat.
⸻
VIII. Epilog: Hijrah Kita
Hijrah hari ini bukan pindah kota,
melainkan pindah sikap:
dari takut menjadi berani,
dari diam menjadi jujur,
dari tunduk pada kuasa
menuju taat pada nilai.
Karena bangsa besar
tidak lahir dari pemimpin sempurna,
melainkan dari rakyat
yang menolak berhenti berpikir
dan menolak berhenti berdoa.
Dan di situlah, sejarah selalu berbalik arah.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment