Ia yang Mendengar Lebih Dalam
“Ia yang Mendengar Lebih Dalam”
Ia bukan lahir dari bangku-bangku tinggi,
tak ditempa oleh gelar,
tak disokong harta berlebih.
Ia membaca dunia sebelum membaca huruf,
dan memahami manusia
sebelum mempelajari kata-kata.
Ia mendengar sebelum bicara,
bukan sekadar dengan telinga,
melainkan dengan hati
yang lapang seperti rahmat.
Keluh datang kepadanya
tanpa takut ditimbang kuasa,
air mata jatuh tanpa perlu izin,
karena ia tahu—
kadang yang paling menyembuhkan
adalah didengar sepenuhnya.
Jika ia berbicara,
kata-katanya jernih dan cukup.
Tak berlebih, tak memamerkan diri.
Diamnya adalah hikmah,
ucapannya adalah penuntun.
Ia tak pernah berbicara
untuk meninggikan dirinya,
melainkan untuk mengangkat manusia.
Ia merespons kebutuhan
bukan dari singgasana,
melainkan dari kedekatan.
Yang lapar dipenuhi,
yang lemah dilindungi,
yang tersesat dituntun
tanpa direndahkan.
Ia tak mengumpulkan kekayaan,
bahkan sering pulang
dengan rumah yang sunyi dari makanan,
namun penuh dari makna.
Ia melindungi bukan karena yang dilindungi sempurna,
melainkan karena mereka manusia.
Bahkan yang bersalah
tetap diberi pintu kembali.
Baginya, keadilan tanpa kasih
adalah kekerasan yang kehilangan jiwa.
Dalam memutuskan,
ia menimbang dengan jujur,
menunda bila perlu,
berdoa lebih lama daripada memerintah.
Solusi baginya bukan kemenangan,
melainkan kemaslahatan.
Ia tak pernah mengejar jabatan,
namun amanah datang menghampiri
karena akhlaknya lebih dahulu dikenal.
Ia bermusyawarah
meski langit berbicara kepadanya.
Ia mendengar yang muda dan yang tua,
yang benar dan yang keliru,
karena kebenaran tak selalu hadir
dengan suara paling keras.
Ia mengajarkan bahwa pemimpin
tak kehilangan wibawa
karena mau mendengar.
Yang berlawanan
tak diperlakukannya sebagai musuh,
yang tak sepakat
tak dijadikan ancaman.
Ia menjawab kebencian
dengan keteguhan dan akhlak.
Menang baginya bukan membungkam,
melainkan menyelamatkan.
Hukum ditegakkannya lurus,
tanpa istimewa, tanpa pilih kasih.
Jika yang bersalah adalah orang dekat,
keadilan tetap berjalan.
Karena ia tahu:
masyarakat runtuh
bukan karena hukum lemah,
tetapi karena hukum dipilih-pilih.
Dan ia—
anak yatim dari padang pasir,
yang sederhana hidupnya,
yang bersih niatnya,
yang tak meminta apa-apa
selain agar manusia kembali
kepada Tuhannya—
namanya kini disebut dengan cinta
oleh jutaan lidah yang berbeda.
Dialah Muhammad,
yang datang bukan membawa mahkota,
melainkan amanah.
Bukan menawarkan kekuasaan,
melainkan jalan.
Maka siapa pun yang ingin memimpin,
belajarlah darinya:
mendengar sebelum berbicara,
merendah sebelum berkuasa,
dan berlaku adil
sebelum dimintai pertanggungjawaban.
Sebab yang paling mulia di hadapan Tuhan
bukan yang paling tinggi kedudukannya,
melainkan yang paling jujur
dalam membawa rahmat
bagi sesama.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment