Ketika Langit Dituduh Tidak Masuk Akal
“Ketika Langit Dituduh Tidak Masuk Akal”
Malam itu,
kabar beredar lebih cepat dari angin padang pasir:
Muhammad berkata
ia pergi dan pulang
dalam satu helaan malam—
dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsa
lalu menembus langit
yang bahkan imajinasi pun takut menatapnya.
Orang-orang tertawa.
Bukan tawa ringan,
tapi tawa yang menusuk harga diri.
“Ini bukan wahyu,” kata mereka,
“ini dongeng penghibur luka.”
Kaum beriman terdiam.
Sebagian menunduk,
sebagian berpaling.
Bukan karena benci,
tapi karena logika mereka
belum sejauh iman diminta berjalan.
Bagaimana mungkin?
Unta butuh berhari-hari,
sedang ia kembali
sebelum subuh menua.
Bagaimana mungkin tubuh
meninggalkan bumi
tanpa hancur oleh langit?
Di pasar, mereka diejek.
Di rumah, mereka ditanya.
Di dalam dada,
mereka berperang
dengan suara sendiri.
“Apakah aku mengikuti kebenaran
atau sedang mempertahankan kegilaan?”
Iman menjadi berat
karena harus dipikul sendirian
di tengah kerumunan cemooh.
Ada yang mundur perlahan,
bukan karena benci Nabi,
tapi karena lelah
menjadi bahan tertawaan.
Ada yang memilih aman,
menyimpan iman
dalam saku kecil
yang tak lagi dibuka.
Dan ada yang bertahan—
dengan lutut gemetar
dan hati yang berdoa dalam diam.
Mereka tidak sepenuhnya mengerti,
tapi mereka memilih percaya
bahwa Tuhan tidak pernah berdusta,
meski akal belum diberi peta.
Lalu Allah menjelaskan
dengan cara yang tak berisik.
Bukan dengan petir,
bukan dengan pengumuman langit.
Ia menjelaskan
melalui seorang sahabat
yang ditanya dengan ejekan:
“Apakah kau percaya ia pergi ke langit?”
Dan jawabannya sederhana,
tenang,
tanpa filsafat panjang:
“Jika Muhammad yang mengatakannya,
maka aku lebih percaya
daripada apa pun yang kulihat.”
Maka goyah menjadi kokoh.
Bukan karena bukti ilmiah,
tapi karena iman menemukan
tempat berpijak yang sejati:
kepercayaan pada kebenaran
sumbernya.
Allah menjelaskan
dengan menjadikan salat
sebagai buah dari perjalanan mustahil itu.
Bukan kisah sensasi,
tapi kewajiban harian
yang mengikat langit dan bumi
lima kali sehari.
Seakan Allah berkata:
“Kau tak perlu naik ke langit
untuk dekat dengan-Ku.
Aku turun
setiap kali kau bersujud.”
Dan mereka yang dulu diejek
menjadi penjaga iman.
Yang dulu gamang
menjadi saksi zaman.
Islam tidak runtuh
oleh ejekan logika,
justru diselamatkan
oleh kejujuran iman.
Sejak itu,
setiap kali sesuatu terasa mustahil,
kita diingatkan:
bukan semua yang tak masuk akal
adalah dusta,
dan tidak semua yang rasional
adalah kebenaran.
Karena iman
bukan tentang memahami segalanya,
melainkan tentang percaya
bahwa Tuhan
lebih luas dari nalar kita.
Dan Isra Mi’raj
tetap menjadi malam
ketika manusia belajar satu hal penting:
bahwa langit tidak pernah jauh,
yang sering jauh
hanyalah keberanian
untuk percaya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment