Kleptosociety (Catatan dari Dalam Luka)

 ”Kleptosociety (Catatan dari Dalam Luka)”


Di sini,
meminta dan mencuri
tidak lagi bersembunyi.
Ia berdiri di loket,
di balik meja,
di pos penjagaan,
di senyum yang dipaksakan
dan dahi yang berkerut sengaja.

Kuasa bertemu kesempatan,
lahirlah kesepakatan sunyi.
Atasan mengangguk,
bawahan menyiapkan alasan.
Pelayanan publik berubah menjadi transaksi,
penegakan hukum menjadi ujian kesabaran jiwa,
bukan pencarian keadilan.

Pejabat politik pun tak absen:
lidahnya fasih menyebut rakyat,
tangannya lihai menghitung peluang.
Kekuasaan dipakai sebagai karpet,
janji dijadikan jembatan sementara,
dilipat rapi setelah menang.

Mereka bicara mandat,
tapi mendengar sponsor.
Mereka menyebut aspirasi,
tapi menagih balas jasa.
Kursi menjadi tujuan,


Bahkan yang mengaku korban
belajar cepat menjadi pelaku.
Pak ogah menaikkan suara,
tukang parkir mengeraskan wajah,
pengadaan direkayasa agar harga punya ruang menanjak.
Semua bergerak dalam satu irama:
uang harus mengalir.

Ini bukan lagi sekadar korupsi.
Ini ekosistem.
Ini pendidikan informal
yang diajarkan tanpa kelas,
tanpa kurikulum,
tanpa rasa bersalah.

Integritas terdengar seperti kata asing.
Kejujuran seperti pilihan mahal
yang tak semua orang sanggup bayar.
Keramahan pelayanan dianggap kebodohan operasional.
Taat aturan diperlakukan
sebagai kelemahan negosiasi.

Pertanyaannya bukan lagi:
apa yang salah?
melainkan:
berapa banyak keburukan yang bisa ditoleransi
sebelum kita ikut menormalisasikannya?

Sebab kehancuran jarang datang
dengan ledakan.
Ia hadir pelan,
saat kita berkata,
“sedikit saja,”
“sekali ini saja,”
“semua juga begitu.”

Perlawanan yang mungkin
bukanlah heroisme besar.
Ia justru sunyi dan melelahkan:
menolak ketika menolak berarti ribet,
bersikap ramah ketika sistem mengajari kasar,
tetap lurus ketika bengkok lebih cepat selesai.

Di negeri seperti ini,
integritas bukan slogan—
ia latihan harian
yang tidak memberi tepuk tangan.
Kejujuran bukan sifat—
ia keputusan berulang
yang sering terasa bodoh.

Dan spiritualitas,
jika masih mau jujur pada dirinya sendiri,
bukan pelarian ke langit,
melainkan keberanian
untuk tidak ikut kotor
saat semua orang nyaman
dengan lumpur.

Mungkin negeri ini tidak berubah
dalam satu generasi.
Mungkin kita tidak akan menikmati hasilnya.
Tapi ada garis yang harus dijaga:
agar keburukan tidak diwariskan
sebagai kelaziman.

Bukan karena kita suci.
Bukan karena kita kuat.
Melainkan karena jika tak ada
yang memulai berhenti,
kejahatan akan terus mengalir
tanpa pernah kehabisan pembenaran.

Dan barangkali,
satu-satunya bentuk iman
yang masih masuk akal di sini
adalah tidak menyerah pada kebiasaan jahat,
meski dunia tak berubah,
meski kita lelah,
meski tak ada yang mencatat.

Sebab kadang,
yang disebut harapan
bukanlah cahaya di ujung terowongan,
melainkan keputusan keras
untuk tidak mematikan lilin
di tangan sendiri.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts