Kompas yang Tidak Selalu Menunjuk Utara

 ”Kompas yang Tidak Selalu Menunjuk Utara”


Aku pernah bertanya:
untuk apa hidup ini?
Pertanyaan sederhana
yang membuat dahi berkerut
dan warung kopi jadi ruang filsafat dadakan.

Ada yang menjawab cepat:
“untuk sukses.”
Ada yang lebih saleh:
“untuk ibadah.”
Ada yang lelah:
“yang penting jalan dulu.”
Semua terdengar benar,
dan semuanya terasa kurang.

Hidup rupanya tidak minta slogan,
ia minta kesediaan.
Kesediaan bangun pagi
meski tujuan masih buram,
kesediaan bertanggung jawab
atas pilihan yang tak sepenuhnya kita mengerti.

Tujuan hidup, kata orang bijak,
adalah peta.
Tapi aku curiga:
kebanyakan dari kita hidup
dengan peta orang lain
dan marah ketika tersesat.

Kita menghafal arah
tanpa pernah menoleh ke langit.
Kita bicara takdir
sambil menolak pilihan.
Kita berdoa panjang
lalu lupa bekerja,
seolah Tuhan senang
diperalat untuk menutup malas.

Padahal ibadah
tidak selalu berwajah sajadah.
Kadang ia menyamar
sebagai kejujuran kecil,
menepati janji yang tidak viral,
atau pulang tepat waktu
agar anak tidak belajar rindu terlalu dini.

Aku belajar pelan-pelan:
tujuan hidup bukan jawaban final,
ia lebih mirip kompas
yang kadang goyah
karena tangan kita gemetar.

Ia tidak selalu menunjuk utara,
tapi selalu mengingatkan
mana jurang,
mana sesama.

Agama tidak pernah meminta kita
menjadi malaikat.
Ia hanya meminta kita
menjadi manusia
yang tidak lari dari tanggung jawab
sambil membawa nama Tuhan.

Dan filsafat tidak memusuhi iman,
ia hanya tidak suka kemalasan berpikir.
Ia bertanya
agar kita tidak hidup
seperti fotokopi keyakinan
yang buram.

Maka aku hidup
dengan tujuan yang tidak megah:
menjadi sedikit lebih jujur
daripada kemarin,
tidak terlalu pongah saat berhasil,
dan tidak menyalahkan langit
saat gagal.

Jika suatu hari aku tersesat,
semoga itu karena aku berjalan,
bukan karena aku takut memilih.
Dan jika suatu hari aku sampai,
semoga aku masih cukup rendah hati
untuk tahu:
ini bukan akhir,
hanya persinggahan.

Karena tujuan hidup
barangkali bukan tentang tiba,
melainkan tentang bagaimana
kita memperlakukan sesama
dalam perjalanan.

Dan di sanalah,
tanpa banyak pengumuman,
Tuhan sering menunggu.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts