Mbuh Lah, Negara Ini Diam
”Mbuh Lah, Negara Ini Diam”
Aku sudah tak tahu
harus berkata apa
tentang negara ini.
Kata-kata terasa habis
sebelum sampai ke mulut.
Semuanya gelap,
kacau balau,
berisik oleh caci maki
yang saling menelan makna.
Setiap hari ada kejadian,
cerita demi cerita
yang tak masuk akal.
Yang dulu mustahil,
kini jadi biasa.
Yang dulu memalukan,
kini lewat
tanpa rasa bersalah.
Dan anehnya,
semua itu dibiarkan
seolah tak terjadi apa-apa.
Seolah negara sedang menutup mata
dan berharap kenyataan
akan lelah sendiri.
Pemerintah terasa seperti bayangan:
ada namanya,
ada wujudnya di layar,
tapi tak benar-benar hadir
saat dibutuhkan.
Tak melindungi,
tak menjelaskan,
tak menenangkan.
Yang terdengar hanya
diam yang panjang
atau suara resmi
yang tak menyentuh luka.
Aku hidup di tengah kegaduhan
yang tak kuundang.
Aku ingin hidup biasa saja,
tanpa takut salah paham,
tanpa harus memilih kubu,
tanpa dipaksa berisik
hanya agar dianggap ada.
Negeri ini seperti panggung besar
yang penuh teriakan,
tapi kosong dari tanggung jawab.
Semua bicara,
tak ada yang sungguh-sungguh
menjaga.
Aku lelah membuka berita,
karena setiap halaman
seperti ejekan pada akal sehat.
Aku lelah mendengar penjelasan,
karena semuanya terdengar
seperti pembenaran
yang rapi
dan dingin.
Rasa frustrasi ini
tidak meledak.
Ia mengendap.
Menjadi berat
di dada
dan pelan-pelan
mengikis rasa memiliki.
Betul-betul tak nyaman.
Seperti tinggal di rumah
yang dindingnya retak,
atapnya bocor,
tapi pemiliknya berkata:
“tenang saja,
semuanya baik-baik saja.”
Aku tak ingin marah.
Aku tak ingin melawan.
Aku juga tak ingin membela.
Aku hanya ingin diakui
bahwa yang terjadi
memang tidak beres.
Tapi tampaknya itu terlalu mahal
untuk diminta.
Jadi yang tersisa
hanya gumam lirih
tanpa tujuan,
tanpa alamat:
mbuh lah…
sak karepmu.
Negeri ini berjalan terus,
sementara aku—
dan mungkin banyak yang lain—
berhenti berharap,
bukan karena benci,
tetapi karena
sudah terlalu lama
merasa sendirian
di tengah keramaian.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment