MIMPI-MIMPI YANG TURUN KE BUMI

 “MIMPI-MIMPI YANG TURUN KE BUMI”


Nabi Yusuf bermimpi
sebelas bintang, matahari, bulan
bersujud—
bukan untuk memuliakan dirinya
melainkan untuk menguji kesabarannya
dalam sumur, penjara, dan waktu
yang tak bisa disuap.

Nabi Ibrahim bermimpi
pisau dan darah
tapi yang disembelih
bukan anaknya—
melainkan ego, kepemilikan,
dan ilusi bahwa manusia
berhak atas segalanya.

Mimpi para nabi
turun dari langit
melewati dada yang bersih,
lalu diuji
oleh penderitaan
sebelum menjadi sejarah.


Pemerintah pun bermimpi.
MBG, sekolah rakyat, koperasi desa,
merah putih dikibarkan dalam data,
danantara dihitung dalam tabel.

Mimpi lahir di ruang rapat,
di slide presentasi,
di kata roadmap dan target.

Tidak salah bermimpi.
Bangsa tanpa mimpi
adalah bangsa yang hanya berjalan
tanpa arah.

Namun di sinilah pertanyaannya:

Apakah semua mimpi
datang dari sumber yang sama?
Apakah semua mimpi
bersedia diuji oleh kenyataan
sebelum diminta untuk dipercaya?


Mimpi nabi
datang sebagai amanah.
Mimpi kuasa
sering datang sebagai agenda.

Yang satu bertanya:
“Apa kehendak Tuhan?”

Yang lain sering lupa bertanya:
“Apa yang sungguh dibutuhkan manusia
yang tak duduk di meja ini?”


Demokrasi adalah jalan,
bukan jaminan.

Ia bukan sekadar suara terbanyak,
melainkan proses mendengar
yang paling sunyi.

Bukan hanya pemilu,
tapi kepekaan.
Bukan hanya legitimasi,
tapi empati.

Jika tujuan ditentukan tanpa rakyat,
cara dijalankan tanpa nurani,
hasil dibela tanpa koreksi—
maka demokrasi tinggal nama
yang dipajang di dinding.


Masukan pakar
bukan musuh mimpi.
Ia adalah gravitasi
agar mimpi tidak melayang
dan jatuh mematikan.

Suara rakyat
bukan selalu kritik.
Sering kali
itu jeritan kebutuhan
yang tak sempat dirumuskan
menjadi kebijakan.

Rakyat mengkritik
karena mereka hidup
di hasil kebijakan,
bukan di konsepnya.


Ilmu dan iman
tidak bertentangan.

Spiritualitas tanpa data
bisa menjadi dogma.
Kebijakan tanpa nurani
menjadi mesin dingin.

Spiritual science
adalah saat angka
punya rasa,
dan visi
punya tanggung jawab moral.


Mimpi yang sejati
bersedia diuji.
Dikoreksi.
Ditunda.
Bahkan dibatalkan
demi kebaikan yang lebih besar.

Karena mimpi yang benar
tidak menuntut sujud—
ia menunduk lebih dulu.


Dan pada akhirnya,
sejarah akan bertanya
bukan seberapa besar mimpi itu,
melainkan:

Apakah mimpi itu
membuat manusia
lebih bermartabat?

Apakah ia
meninggalkan sumur,
atau menambahnya?


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts