Motor untuk Luka yang Tak Pernah Diminta
”Motor untuk Luka yang Tak Pernah Diminta”
Di jalan sempit,
di antara es gabus yang mencair
dan peluh orang kecil
negara datang
dengan seragam dan kuasa.
Bukan membawa tanya,
bukan membawa hukum,
melainkan keyakinan sepihak
bahwa kebenaran
boleh dipukul lebih dulu.
Tubuh yang tak tahu apa-apa
dijatuhkan,
tangan yang hanya bekerja
dipelintir,
dan rasa aman
retak tanpa suara.
Lalu negara berhenti sejenak,
menatap cermin
dan berkata lirih:
“Maaf.”
Maaf yang diucap mikrofon,
disaksikan kamera,
dipeluk tepuk tangan,
namun tak sempat
menyentuh luka paling dalam.
Karena luka
bukan hanya lebam di kulit,
melainkan rasa takut
yang kini tinggal
di setiap langkah warga kecil
saat berpapasan dengan kuasa.
Datanglah kemudian pimpinannya dengan
sebuah sepeda motor,
mengkilap, baru,
seperti penutup cerita
yang ingin disebut bahagia.
Namun siapa yang mengajarkan
bahwa keadilan
bisa diganti benda?
Bahwa hukum
cukup ditenangkan dengan hadiah?
Bahwa trauma
boleh dibungkam oleh mesin dan bensin?
Di sinilah masalah baru lahir:
ketika hukum lelah berjalan,
dan kuasa memilih memeluk
bukan menata.
Ketika kesalahan struktural
dipersempit jadi urusan pribadi,
dan negara menjelma dermawan
agar tak perlu berhadapan
dengan cermin tanggung jawab.
Ini bukan sekadar motor,
ini simbol:
bahwa kekerasan bisa dinegosiasikan,
asal dilakukan oleh yang berseragam.
Bahwa aparat boleh salah,
asal berani meminta maaf,
dan masyarakat kecil
cukup tahu diri
untuk berhenti menuntut.
Maka ketenangan pun semu,
tenang karena takut,
bukan karena adil.
Damai karena diberi,
bukan karena dilindungi.
Dan es gabus terus mencair,
mengalir di jalan
bersama pertanyaan yang tak dijawab:
Jika hukum bisa digantikan hadiah,
siapa yang menjamin
besok kami tidak dipukul lagi?
Negara seharusnya hadir
bukan sebagai bapak yang memberi mainan
saat anaknya menangis,
melainkan sebagai penjaga
yang memastikan
tak ada tangan kuasa
yang mudah terangkat
atas nama apa pun.
Karena keadilan
bukan barang kompensasi,
melainkan keberanian
menegakkan hukum
bahkan saat pelakunya
adalah diri sendiri.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment