Pelajaran dari Sel yang Sunyi
”Pelajaran dari Sel yang Sunyi”
Sjahrir tidak berteriak,
ia menulis dengan napas pendek,
mengukur dunia dengan akal,
bukan dengan jumlah telapak tangan yang bertepuk.
Ia percaya:
kemerdekaan bukan bunyi pengeras suara,
melainkan ruang sunyi
tempat pikiran boleh berdiri tanpa takut.
Lalu republik tumbuh—
dan dinding-dinding ikut tumbuh bersamanya.
Nama kawan berubah jadi arsip,
perbedaan jadi pasal,
dan sel menjadi alamat tetap
bagi mereka yang terlalu jujur.
Di penjara, Sjahrir belajar pelajaran paling pahit:
bahwa kekuasaan yang lahir dari cinta rakyat
bisa lupa cara mencintai pikiran.
Hari ini, kita tidak selalu dikurung besi.
Kadang kita dipenjara algoritma,
dibisukan oleh sorak yang lebih ramai,
atau ditertibkan oleh kalimat:
“demi stabilitas.”
Kita bebas berjalan,
tapi berhati-hati berpikir.
Kita boleh bicara,
asal seirama.
Namun lihat—
di antara kebisingan itu,
nurani masih berlatih berdiri.
Pelan, seperti Sjahrir dulu:
rapuh di tubuh,
tegak di batin.
Spiritualitas tidak selalu naik ke langit.
Kadang ia turun ke sel,
menjadi kesetiaan pada akal
ketika akal tidak populer.
Menjadi iman pada kebenaran
meski tak menjanjikan tepuk tangan.
Sjahrir wafat jauh dari tanahnya,
tapi ia pulang setiap kali
seseorang memilih jujur
di saat berbohong lebih aman.
Maka jika hari ini kita lelah,
ingatlah:
sejarah tidak digerakkan oleh mereka yang paling keras,
tetapi oleh mereka
yang tetap berpikir lurus
saat dunia meminta tunduk.
Dan itu—
adalah ibadah paling sunyi,
yang jarang disebut,
namun selalu dicatat.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment