Sejengkal Tanah, Seluas Silaturahim

 ”Sejengkal Tanah, Seluas Silaturahim”


Tanah itu kecil,
di peta nyaris tak terlihat.
Sejengkal peninggalan nenek buyut
di Kuwarasan, Gombong—
nama yang lebih sering hidup
di cerita
daripada di ingatan kami.

Ia menunggu lama,
melampaui musim,
melampaui generasi.
Anak-anaknya menua,
cucu-cucunya berpulang,
dan kami—
cicit dan buyut yang hampir lupa—
baru sadar
bahwa akar tak pernah benar-benar mati.

Maka dikumpulkanlah kami.
Bukan hanya tanda tangan,
tapi kenangan.
Di Yogya, Bandung, Jakarta—
rumah-rumah mendadak menjadi balai desa,
ruang tamu berubah jadi ruang sejarah keluarga.

Bayangkan:
empat generasi duduk sebangku,
yang rambutnya memutih
bercanda dengan yang baru belajar menyebut nama leluhur.
Yang muda mendengar,
yang tua mengingat,
dan yang telah tiada
hadir diam-diam dalam tawa kami.

Riuh.
Bukan riuh sengketa,
tapi riuh rindu.
Ada ledekan tentang wajah yang mirip siapa,
tentang watak yang “jelas turunan siapa”,
tentang cerita lama yang selalu dibesar-besarkan
agar tetap hidup.

Tanah itu akhirnya dijual.
Ukurannya kecil,
nilainya biasa.
Tapi lihatlah keajaiban yang ditinggalkannya:
ia memanggil pulang
anak-anak yang tercerai jarak,
mengikat kembali
nama-nama yang nyaris asing.

Nenek buyut,
mungkin tak pernah membayangkan
bahwa sejengkal tanahnya
akan menjadi undangan silaturahim
lintas kota, lintas zaman.
Bahwa akarnya
akan menumbuhkan
pelukan-pelukan baru.

Untuk generasi yang muda:
ingatlah,
warisan terbesar bukan tanah,
bukan surat,
bukan angka di rekening—
melainkan kebiasaan saling mencari
dan keberanian untuk pulang.

Keluarga bukan soal tinggal serumah,
tapi soal saling mengingat
meski hidup membawa kita
ke arah yang berbeda.

Dan di antara canda dan tawa itu,
kami belajar satu doa sederhana:
bahwa Tuhan mencintai
pertemuan yang diniatkan,
dan merahmati
tangan-tangan yang saling menggenggam
karena silaturahim.

Tanah itu kini tak lagi kami miliki,
namun sesuatu yang jauh lebih luas
telah kembali ke pangkuan kami:
rasa menjadi satu keluarga.

Sejengkal tanah telah berpindah tangan,
tetapi silaturahim—
ia tumbuh,
mengakar,
dan insyaAllah
tak akan pernah dijual.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts