Selalu Ada di Nadimu
”Selalu Ada di Nadimu”
— Tentang cucu kecil, waktu yang menebus, dan doa agar tetap sehat
Kami menyanyi bersama,
aku dan cucu kecil,
nadanya patah-patah,
lebih sering tertawa
daripada tepat.
Liriknya terlalu dewasa
untuk suara sekecil itu,
namun entah bagaimana
ia langsung sampai ke hati,
membuatku gugup
seperti pertama kali
belajar menjadi ayah—
lagi.
Ada rasa sayang
yang ingin sederhana,
namun disusul tanggung jawab
yang beratnya tak bisa dinyanyikan.
Karena mencintai anak kecil
selalu berarti
siap menjaga masa depan
yang belum tahu apa-apa
tentang dunia.
Aku menyadari satu hal:
agar bisa selalu ada di nadimu,
aku harus sehat,
bukan demi diriku,
melainkan demi janji
yang tak pernah kami ucapkan.
Dulu aku sibuk,
mencari hidup,
hingga lupa
menyaksikan anakku tumbuh.
Ia besar tanpa menunggu,
dan waktu tidak menoleh
meski aku bekerja dengan niat baik.
Kini Tuhan memberiku ulangan,
bukan untuk menebus,
tetapi untuk belajar lebih jujur.
Bersama cucu kecil
yang belum hafal lagu,
aku diingatkan
bahwa hadir
lebih penting daripada benar.
Kami salah nada,
salah lirik,
namun tepat di momen.
Dan di situlah aku tertawa
sendiri:
ternyata kebahagiaan
tidak perlu sempurna,
cukup tepat waktu.
Aku ingin ada
sampai ia bisa membaca,
sampai ia berani bermimpi,
sampai suatu hari
ia tidak lagi butuh
suara kakeknya
untuk menyanyi.
Maka aku berdoa
dengan cara paling pragmatis:
semoga badan ini kuat,
napas ini panjang,
dan hatiku cukup lapang
untuk berhenti sebentar
setiap kali ia memanggil.
Jika kelak aku tak lagi hafal lagu-lagu baru,
biarlah ia ingat satu hal saja:
bahwa pernah ada seorang kakek
yang bernyanyi salah,
tertawa keras,
dan memilih pulang lebih cepat
demi sebuah nada kecil
yang ingin dijaganya
sampai besar.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment