SIAPA YANG SALAH?
”SIAPA YANG SALAH?”
Di hutan yang roboh tanpa upacara,
gergaji bernyanyi lebih keras dari doa.
Seorang penebang mengayunkan besi,
katanya: anak saya harus makan hari ini.
Mandor menghitung batang dan rupiah,
tangannya bersih, katanya hanya bekerja.
Truk melaju, crane mengangkat sunyi,
sopir bersiul, ini hanya rutinitas pagi.
Di tikungan jalan, seragam berdiri tegak,
mata melihat, hati bernegosiasi.
Gudang menumpuk kayu seperti dosa yang disusun rapi,
pabrik memutarnya jadi keuntungan yang wangi.
Kapal berlayar, laut diam dipaksa lupa,
importir merapikan dokumen dan citra.
Kayu jadi rumah, jadi kertas, jadi meja rapat,
tak ada lagi bau hutan, tak ada lagi jerit satwa.
Lalu hujan turun tanpa belas kasih,
tanah longsor, sungai naik sampai dada.
Rakyat berlari membawa anak dan iman,
rumah hanyut, doa tercecer di lumpur bencana.
Siapa yang salah?
Apakah penebang yang lapar?
Atau mandor yang patuh?
Atau sopir yang tak pernah bertanya?
Atau aparat yang “menjaga”?
Atau gudang, pabrik, kapal, dan pasar?
Atau mereka yang duduk paling jauh dari lumpur,
di balik meja mengkilap dan senyum berlapis,
yang tak pernah menebang,
tapi memotong masa depan dengan pena dan izin?
Kebenaran ini pahit, wahai anak muda:
kejahatan besar jarang berdiri sendiri.
Ia berjalan beriringan,
dibenarkan oleh kebutuhan,
dilindungi oleh kuasa,
dan dibungkam oleh diam.
Namun dengarlah—
bumi tidak pernah lupa.
Hutan yang tumbang sedang menulis sejarah,
air yang meluap sedang memberi kesaksian.
Tuhan tidak bertanya: siapa yang paling miskin?
Tuhan bertanya: siapa yang tahu ini salah, tapi tetap diam?
Maka bangkitlah, generasi yang belum lelah.
Jadilah yang berani bertanya di tengah arus,
yang menolak upah dari kehancuran,
yang menjaga bumi sebagai amanah, bukan komoditas.
Tak semua orang harus jadi pahlawan,
tetapi setiap orang bisa memilih:
ikut merusak,
atau berhenti satu langkah sebelum dosa diwariskan.
Karena hutan bukan warisan orang tua,
melainkan titipan anak cucu.
Dan masa depan tidak hancur oleh gergaji,
melainkan oleh manusia
yang tahu kebenaran
namun memilih berpaling.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment