Silaturahim yang Pulang
”Silaturahim yang Pulang”
Tak ada yang seindah silaturahim keluarga—
kakak, adik, ipar—
duduk tanpa jarak,
bersapa tanpa peran.
Gelak tawa pecah sederhana,
meledek tanpa luka,
sebab cinta telah menua bersama waktu.
Kenangan dipungut satu-satu:
masa muda yang keras,
langkah yang pernah salah,
kata-kata yang dulu tajam
kini tinggal pelajaran.
Rambut telah memutih,
mata tak lagi setajam dulu.
Kami sadar,
waktu kini lebih mahal
daripada ambisi yang pernah kami kejar
dengan dada membusung.
Hari-hari dihabiskan
bersama anak dan cucu—
menyemai nilai,
bukan sekadar warisan.
Mengajarkan arah,
sebab dunia terlalu bising
untuk ditinggali tanpa kompas.
Kami berikhtiar sehat,
bukan karena takut mati,
tetapi karena ingin
tetap berguna.
Produktif bukan demi pujian,
melainkan agar hidup
tak berhenti memberi makna.
Namun di sela tawa,
ada hening yang tak terucap.
Kami tahu,
pertemuan kini semakin jarang,
kursi-kursi perlahan akan kosong,
dan satu per satu
akan lebih dulu dipanggil pulang.
Malam pun mengajarkan kami
tentang ikhlas yang sebenarnya:
menerima bahwa usia adalah pengurangan,
bahwa kuat berubah menjadi cukup,
dan cukup perlahan berubah
menjadi syukur.
Kami menunduk dalam diam,
mengingat nama-nama
yang telah lebih dulu pergi,
dan bertanya lirih pada diri sendiri:
apakah kami sudah cukup mencintai,
cukup memaafkan,
cukup merendahkan hati?
Ya Tuhan,
jika kelak kami dipanggil
tanpa aba-aba,
jangan biarkan kami pergi
dengan sisa dendam
atau kata yang tak sempat diucap.
Biarlah silaturahim ini
menjadi saksi yang lembut:
bahwa kami pernah duduk bersama,
pernah tertawa tanpa topeng,
pernah menua tanpa saling meninggalkan.
Dan bila suatu hari
tinggal foto di dinding
dan cerita yang diulang cucu-cucu,
izinkan nama kami
hidup dalam doa mereka—
sebagai manusia biasa
yang berusaha pulang
dengan hati yang Kau ridai.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment