Tentang Ancaman, dan Siapa yang Sebenarnya Takut
”Tentang Ancaman, dan Siapa yang Sebenarnya Takut”
Ada kekerasan yang datang bukan dari keberanian,
melainkan dari ketakutan yang tak sanggup berdiri di terang.
Ancaman dilayangkan oleh orang-orang tanpa nama,
tanpa wajah,
tanpa keberanian untuk mengaku siapa mereka sebenarnya.
Mereka memukul dari balik layar,
mengintimidasi dari lorong sunyi,
lalu berharap bangsa ini gemetar
dan para pengkritik belajar diam.
Mereka keliru.
Semakin diancam,
suara justru semakin banyak.
Semakin ditekan,
kesadaran tumbuh semakin masif.
Karena kritik bukan penyakit,
ia adalah demam
yang muncul ketika tubuh negara sedang sakit.
Betapa pengecutnya kekerasan semacam itu.
Pengecut sampai ke tulang.
Karena hanya orang yang sadar akan kesalahannya
yang merasa perlu membungkam.
Lalu mereka bersembunyi di balik nama besar:
Negara.
Padahal negara tidak pernah meminta jasa mereka.
Negara tidak butuh preman.
Negara tidak butuh pengancam.
Negara tidak butuh ketakutan sebagai alat pemerintahan.
Yang membutuhkan ancaman
hanyalah para pecundang yang rakus,
yang hidup dari uang curian,
yang tahu bahwa jika hukum bekerja jujur,
hidup mereka akan berakhir di hadapan pengadilan.
Negara yang sehat
cukup dengan satu hal:
hukum yang adil,
hukum yang kuat,
hukum yang tidak berlutut pada kuasa dan uang.
Jika hukum ditegakkan dengan benar,
para pengkritik akan tenang—
bukan karena dibungkam,
tetapi karena keadilan telah bicara.
Dan yang korup
tak perlu diancam,
tak perlu dimaki,
cukup dihadapkan pada terang.
Karena kebenaran
tidak berteriak,
tidak mengancam,
tidak memukul dari belakang.
Ia berdiri diam,
namun semua yang salah
akhirnya runtuh sendiri.
Di sanalah kita belajar,
dalam hening yang spiritual dan jujur:
bahwa kekuasaan sejati
tidak pernah takut pada kritik.
Yang takut
selalu mereka
yang tahu
bahwa hidupnya dibangun
di atas kebohongan.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment