Tentang Mereka yang Mengejar Jejak
“Tentang Mereka yang Mengejar Jejak”
Ia datang membawa pahat dan prasasti,
bukan untuk membaca yang telah ditulis,
melainkan untuk menghapusnya.
Sebab baginya,
yang ada sebelum dirinya
tak cukup layak dikenang.
Ia menyebutnya pembaruan,
padahal sering kali hanya pemindahan nama.
Ia menolak meneruskan jalan
yang telah diuji waktu,
karena jalan itu tak memuat namanya
di batu peringatan.
Program-programnya lahir dari mimpi,
dari bayangan yang berkilau di benaknya,
namun jarang menjejak tanah ilmu.
Ia lebih percaya intuisi kekuasaan
daripada data yang sabar,
lebih yakin pada imajinasi pribadi
daripada pengetahuan kolektif
yang telah lama bekerja untuk rakyat.
Setiap kritik terdengar sebagai ancaman,
bukan sebagai penanda arah.
Ilmu dianggap memperlambat,
pengalaman dicurigai sebagai masa lalu.
Yang bertanya disingkirkan dari lingkaran,
yang berbeda dituduh menghambat kemajuan.
Padahal bangunan lama
berdiri bukan dari kebetulan,
melainkan dari keringat panjang,
dari kesalahan yang dipelajari,
dari riset yang berulang,
dan dari suara masyarakat
yang tak selalu bersuara keras.
Ia terburu-buru menanam monumen,
tak sempat menumbuhkan manfaat.
Ia lupa:
masyarakat tak hidup dari mimpi penguasa,
melainkan dari kebijakan
yang bekerja pelan
namun setia.
Legacy yang dikejar dengan nafsu
sering kehilangan ruhnya.
Sebab warisan sejati
tak lahir dari obsesi dikenang,
melainkan dari kerendahan hati
untuk melanjutkan yang baik,
memperbaiki yang kurang,
dan mengakui bahwa kebenaran
tak selalu dimulai dari dirinya.
Sejarah, dengan kesabarannya yang dingin,
tak mencatat siapa yang paling keras
menyebut namanya sendiri.
Ia mengingat siapa yang paling lama
manfaatnya dirasakan.
Dan Tuhan—
tak menimbang ambisi,
melainkan amanah.
Bukan seberapa besar mimpi yang diumumkan,
melainkan seberapa banyak kehidupan
yang benar-benar ditolong.
Berbahagialah pemimpin
yang rela tak diukir di batu,
asal jejaknya hidup
di kehidupan banyak orang.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment