Tugas di Waktu Kita
”Tugas di Waktu Kita”
Kita tidak dititipi seluruh zaman,
hanya satu potong waktu
yang singgah di tangan kita.
Tidak diminta menyelesaikan segalanya,
hanya menjaga
agar yang ada tidak runtuh
saat kita lewat.
Satu demi satu tugas itu datang,
tak selalu besar,
tak selalu disebut sejarah.
Ada yang sunyi,
ada yang tak sempat diberi nama,
namun tetap harus diselesaikan
dengan jujur.
Kita bekerja bukan untuk menutup semua luka,
melainkan agar luka itu
tidak diwariskan
dengan kebencian.
Karena akan ada yang melanjutkan,
akan ada yang menyempurnakan,
dan kita hanyalah satu mata rantai
dari niat panjang sebuah bangsa.
Harapan kita tidak ditambatkan
pada tepuk tangan,
melainkan pada Tuhan
yang melihat ikhtiar
meski hasil belum selesai.
Kita hanya berdoa
agar upaya yang terbaik
tidak berakhir sia-sia,
agar kerja yang lurus
menjadi fondasi
bagi langkah mereka
yang datang kemudian.
Mungkin inilah takdir kita:
menyiapkan jalan,
bukan menikmati akhir.
Menanam pohon,
bukan berteduh di bawahnya.
Dan kepada anak cucu
yang belum kita kenal wajahnya,
kita titipkan satu pesan
tanpa kata-kata:
bahwa bangsa ini pernah dijaga
oleh orang-orang
yang memilih jujur
meski tak sempurna.
Patriotisme kita
bukan teriakan,
melainkan kesetiaan diam-diam
pada tugas yang dipercayakan.
Spiritualitas kita
bukan lari dari dunia,
melainkan menyerahkan hasil
kepada Tuhan
setelah segala daya
kita kerahkan.
Satu tugas,
di satu waktu,
dengan niat yang lurus.
Dan bila itu selesai,
kita bersiap pergi
dengan tenang,
karena estafet telah kita letakkan
di tangan yang tepat.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment