Di Antara Doa dan Kuasa
Di Antara Doa dan Kuasa
Kontemplasi bagi Republik yang Mencari Nurani
Di lorong kekuasaan yang berlapis sunyi,
kita seakan membaca ulang Macbeth,
ketika pujian menjelma jubah kesetiaan,
dan kata-kata manis menyembunyikan hitungan.
Di panggung yang dahulu digubah
oleh William Shakespeare,
para bangsawan menunduk dengan anggun,
namun di baliknya
ambisi berbisik pelan.
Kini, di negeri kepulauan
yang dirajut sejarah, doa, dan pengorbanan,
kita menyaksikan adegan serupa—
lebih halus, lebih terpelajar,
namun tetap manusiawi dalam godaannya.
Ada yang sujudnya lama,
ucapannya lembut,
wajahnya teduh di hadapan publik;
namun di ruang tertutup
ia merangkai pujian
sebagai jembatan menuju kursi.
Strategi, katanya.
Kalkulasi zaman.
Realitas politik.
Seolah nurani dapat dititipkan sementara,
menunggu musim yang lebih aman
untuk kembali bersuara.
Yang tegak lurus dianggap kaku.
Yang bersuara jernih disebut kurang luwes.
Yang menjaga jarak dari jamuan kuasa
dinilai tak pandai membaca arah.
Padahal arah tak selalu ditentukan angin.
Kadang ia lahir dari kompas batin
yang tak terlihat,
namun setia menunjuk kebenaran.
•
Indonesia bukan sekadar grafik elektabilitas,
bukan sekadar perjanjian koalisi,
bukan sekadar tepuk tangan yang tertata.
Ia adalah janji panjang
yang pernah diucapkan oleh
Soekarno
tentang bangsa yang bermartabat;
ia adalah keteguhan sunyi
Mohammad Hatta
tentang integritas yang tak ditawar.
Republik ini tumbuh bukan oleh pujian kosong,
melainkan oleh keberanian berkata cukup
ketika hati merasa melampaui batas.
•
Sholat yang khusyuk
semestinya menumbuhkan keberanian,
bukan sekadar ketenangan pribadi.
Iman bukan pelindung ambisi,
melainkan penuntun tanggung jawab.
Betapa mudah menyebut nama Tuhan
di podium yang terang;
betapa berat menjaga kejujuran
di ruang yang sunyi.
•
Idealis mungkin berjalan lebih lambat.
Mereka tak selalu diundang
ke meja-meja strategis.
Mereka kerap disebut naif.
Namun sejarah memiliki ingatan panjang.
Ia mencatat mereka
yang memilih kehilangan jabatan
demi menjaga jiwa.
Karena kursi hanyalah titipan waktu.
Kekuasaan hanyalah giliran.
Tetapi martabat—
ia menetap lebih lama
dalam ingatan bangsa
dan di hadapan Tuhan.
•
Wahai Indonesia,
jangan biarkan generasimu percaya
bahwa kelurusan adalah kelemahan,
bahwa kebersihan adalah kesalahan taktis.
Ajari kami diplomasi tanpa kehilangan diri,
keluwesan tanpa pengkhianatan,
ketaatan yang melahirkan keberanian.
Sebab pada akhirnya,
yang akan ditimbang bukan lamanya berkuasa,
melainkan kejernihan hati
ketika berdiri di hadapan-Nya.
Semoga di tengah riuh politik,
masih ada yang memilih tenang,
memilih bermartabat,
memilih takut hanya kepada Tuhan—
dan karena itu,
tak mudah tunduk kepada manusia.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment