Di Antara Gurun, Sejarah, dan Kepentingan
Di Antara Gurun, Sejarah, dan Kepentingan
Di tanah yang tua oleh kitab-kitab,
di langit yang sama tempat para nabi disebut,
rudal melintas lebih cepat
daripada doa yang sempat selesai.
Iran berdiri dengan warisan Persia
yang telah ada sebelum banyak bangsa modern lahir—
bangga, strategis, penuh ingatan tentang intervensi luar.
Israel berdiri dengan sejarah panjang pengusiran
dan proyek negara yang dibangun
di atas trauma, ancaman, dan tekad bertahan.
Negeri-negeri Arab berdiri
di antara solidaritas, rivalitas,
minyak, perbatasan buatan kolonial,
dan generasi muda yang lelah pada konflik lama.
Lalu ada Amerika—
kekuatan jauh dari gurun,
namun dekat di setiap perhitungan.
Ia hadir lewat pangkalan militer,
perjanjian keamanan,
veto di Dewan Keamanan,
dan pasar energi global.
Kadang sebagai penyeimbang,
kadang sebagai penguat satu sisi,
selalu dengan bahasa kepentingan nasional
yang dibungkus narasi stabilitas dan keamanan.
Fakta-fakta keras tidak pernah puitis:
aliansi dibentuk oleh strategi,
serangan dibalas oleh serangan,
sanksi ekonomi menghantam rakyat lebih dulu
sebelum menyentuh elit kekuasaan.
Harga minyak naik,
mata uang negara berkembang bergetar,
rantai pasok terganggu—
dan dunia ikut menanggung riaknya.
Agama sering disebut,
tetapi keputusan dibuat dalam ruang rapat
yang dipenuhi data satelit,
laporan intelijen,
dan angka-angka risiko.
Identitas—Arab, Yahudi, Persia—
sering disederhanakan,
padahal realitasnya jauh lebih berlapis
daripada judul-judul sensasional.
Di layar-layar kecil kita,
amarah dijadikan konten,
sejarah dipotong agar muat dalam satu unggahan,
dan simpati diarahkan oleh algoritma.
Padahal kebenaran jarang viral.
Ia lambat, penuh konteks,
dan tidak nyaman bagi semua pihak.
Sebagai Indonesia—
bangsa yang lahir dari pengalaman dijajah,
yang dalam konstitusinya menolak penjajahan
dan mendukung kemerdekaan setiap bangsa—
kita tidak dipanggil untuk bersorak
atau membenci secara instan.
Kita dipanggil untuk jernih.
Mendukung hukum internasional,
menolak serangan terhadap warga sipil
dari siapa pun pelakunya,
menghormati kedaulatan negara,
dan mendorong penyelesaian damai
melalui diplomasi yang konsisten.
Bukan karena kita netral tanpa hati,
tetapi karena kita tahu
perang selalu dibayar oleh rakyat biasa—
di Teheran, di Tel Aviv, di Gaza,
di kota-kota Arab,
bahkan di negara jauh yang tak pernah menekan tombol apa pun.
Di antara gurun dan kepentingan global,
yang paling sunyi adalah suara akal sehat.
Dan mungkin,
di situlah seharusnya Indonesia berdiri—
tidak digerakkan emosi sesaat,
tidak ditarik propaganda mana pun,
tetapi teguh pada data, hukum, dan kemanusiaan.
Karena damai memang tidak dramatis.
Namun ia satu-satunya kemenangan
yang tidak meninggalkan dendam.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment