Di luar Agenda
*”Di luar Agenda”*
Dulu,
gangguan punya nama besar dan wajah tegang.
Rapat yang muncul tanpa permisi,
isu strategik yang tak mau menunggu pagi,
kertas-kertas dengan stempel penting
yang menuntut segera dimengerti.
Hari-hari diukur dengan agenda,
malam-malam dikorbankan
demi sesuatu yang disebut kepentingan.
Koper selalu setengah siap,
pikiran selalu setengah pergi.
Tubuh hadir,
tapi jiwa sering tertinggal
di ruang rapat berikutnya.
Chaos harus diatur,
masalah harus terlihat terkendali.
Dan entah sejak kapan,
lelah menjadi kebanggaan kecil
yang jarang diakui.
Sekarang,
gangguan datang lebih pelan.
Ia mengetuk tanpa hierarki,
tanpa surat undangan.
Datang sebagai tawa cucu
yang tak tahu apa itu target kinerja,
tapi tahu persis
cara membuyarkan keseriusan yang berlebihan.
Datang sebagai janji reuni,
obrolan lama yang diulang,
cerita yang sebenarnya sudah kita tahu ujungnya,
namun tetap ingin didengar lagi.
Ada pesan dari teman lama:
“Masih ingat?”
dan rupanya hidup memang suka
menarik kita mundur
untuk memastikan kita belum lupa siapa diri kita.
Proyek-proyek baru muncul
tanpa jabatan,
tanpa tanda tangan basah,
tapi membawa rasa ingin berguna
yang lebih jujur.
Membantu, sekadar bisa.
Hadir, sekadar mampu.
Dunia ini ternyata tidak berubah banyak.
Ia tetap riuh, tetap tak rapi.
Yang berubah hanyalah
cara kita berdiri di dalamnya.
Dulu kita ingin mengatur arus,
sekarang cukup belajar berenang.
Dulu ingin memastikan semuanya benar,
sekarang cukup memastikan
tidak kehilangan rasa.
Tak semua gangguan perlu ditolak.
Sebagian justru penanda
bahwa hidup masih mengajak bicara.
Bahwa kita masih dibutuhkan,
bukan karena posisi,
melainkan karena keberadaan.
Dan di antara tawa, janji, dan permintaan kecil itu,
kita mulai mengerti:
Hidup tidak pernah minta disempurnakan.
Ia hanya ingin dijalani.
Apa adanya.
Dengan senyum sesekali,
dengan lelah yang lebih ramah,
dengan hati yang tidak lagi tergesa.
Sederhana saja.
Dunia tetap dunia.
Kita tetap manusia.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment