Dilangit yang Sama, Kembang Api dan Bedug

“Dilangit yang Sama, Kembang Api dan Bedug”


Di satu langit yang sama
kembang api menyala dari rumah-rumah yang menggantung lampion,
sementara bedug dipukul pelan
menggetarkan udara menjelang sahur pertama.

Di kalender, angka-angka tersenyum kikuk—
Chinese New Year dan Ramadan
datang berbarengan,
seolah semesta sedang bercanda:
“Lihat, manusia,
aku tak pernah keberatan menyandingkan warna.”

Merah dan hijau,
petasan dan doa,
angpao dan kurma,
tawa dan lapar yang dipilih dengan sadar.

Tapi di dada manusia,
warna sering berubah jadi bendera,
bendera berubah jadi pagar,
pagar berubah jadi tembok,
dan tembok—ah, tembok selalu merasa dirinya suci.

Mengapa berbeda lalu bermusuhan?
Karena kita terlalu mencintai cermin
dan lupa mencintai jendela.

Kita ingin semua orang seragam,
padahal bahkan pelangi pun tak pernah berdebat
untuk menyatukan warna.

Lucunya,
kita percaya Tuhan Maha Kuasa,
tapi panik setiap kali
Tuhan menciptakan manusia yang tak sama dengan kita.

Kita bilang ingin surga,
tapi tak tahan hidup berdampingan
dengan tetangga yang beda cara menyebut nama-Nya.

Bukankah lebih indah bila tak ada perbedaan?
Mungkin.
Tapi dunia tanpa beda
adalah taman tanpa bunga,
hanya rumput plastik
yang tak pernah layu
dan tak pernah hidup.

Perbedaan bukan sumber perang—
ia hanya bahan baku.
Yang memasaknya jadi kebencian
adalah ego yang lapar
dan tak pernah puasa.

Kita lupa:
identitas seharusnya jendela,
bukan palu.
Kepercayaan seharusnya pelukan,
bukan pagar listrik.

Bayangkan dunia
yang tak sibuk mengukur surga orang lain,
yang tak menghitung doa dengan kalkulator kecurigaan.
Dunia yang percaya
bahwa kenyang tak menghalangi orang berpuasa,
dan berpuasa tak melarang orang bersuka cita.

Bagaimana membangun masyarakat yang akur, guyub, bahagia?

Mulailah dari hal paling radikal:
mengakui bahwa kita sama-sama rapuh.

Bahwa darah tetap merah
meski baju kita berbeda warna.
Bahwa tangis bayi terdengar sama
di rumah yang ada lampionnya
dan di rumah yang ada sajadahnya.

Belajarlah duduk di meja yang tak seragam.
Tertawalah pada perbedaan—
bukan dengan ejekan,
tapi dengan kelapangan.

Kalau perlu,
rayakan tahun baru sambil menahan lapar,
dan berbuka puasa sambil berbagi jeruk manis.

Sebab mungkin rahasia damai
bukan menghapus warna,
melainkan belajar menari di antaranya.

Langit tak pernah memilih
siapa yang boleh memandangnya.
Mataharinya terbit
tanpa bertanya agama.

Barangkali,
yang perlu kita tiru bukan keseragaman,
melainkan kemurahan semesta.

Karena di ujung segala perbedaan,
kita hanya manusia—
makhluk yang ingin dicintai,
ingin aman,
ingin pulang
ke dunia yang tak lagi takut
pada warna lain.

Dan mungkin suatu hari nanti,
ketika kembang api dan bedug kembali bersamaan,
kita tak lagi bertanya
“Siapa yang berbeda?”

Kita hanya akan berkata,
“Ah, akhirnya kita belajar
menjadi manusia.”


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts