Hai Tuhan, Ini Aku Lagi
Hai Tuhan, Ini Aku Lagi
Menjelang Ramadhan
Hai Tuhan, ini aku lagi.
Iya, yang itu.
Yang sering janji khusyuk
lalu terdistraksi notifikasi.
Besok Ramadhan, Tuhan.
Apakah ada sesuatu yang baru?
Atau aku yang harus baru?
Jangan-jangan bulan-Mu selalu segar,
hanya hatiku yang suka basi.
Tuhan,
kalau boleh jujur,
aku ingin Ramadhan kali ini
tidak sekadar pindah jam makan,
tidak sekadar kuat menahan lapar
tapi kalah menahan komentar.
Ajari aku puasa
bukan cuma di perut,
tapi juga di mulut—
yang kadang lebih tajam dari cabai,
dan lebih cepat dari jempol mengetik.
Bimbing aku, Tuhan.
Kalau langkahku lambat, tuntun.
Kalau niatku goyah, kencangkan.
Kalau aku mulai merasa suci,
tolong ingatkan dengan lembut—
bahwa kesombongan
tidak pernah masuk surga.
Untuk kerabat, sahabat, handai tolan,
yang jauh dan yang dekat,
yang masih sering bercanda denganku
atau yang diam-diam menyimpan luka—
jagalah mereka sehat, ya Tuhan.
Agar mereka kuat berdiri di tarawih,
kuat tersenyum saat berbagi,
kuat menahan diri
dari hal-hal yang tak perlu.
Ampuni kami,
bahkan sebelum kami selesai menyebut dosa.
Berkahi kami,
bahkan ketika kami lupa bersyukur.
Dan Tuhan…
Indonesia ini Kau titipkan pada kami.
Negeri yang kadang ribut
hanya karena beda selera dan beda warna.
Tolong teduhkan.
Buat aman bukan karena takut,
tenteram bukan karena bungkam,
damai bukan karena pura-pura,
sejahtera bukan hanya di angka,
tapi terasa sampai ke dapur dan dada.
Kalau Ramadhan ini harus seperti biasa,
maka buatlah aku yang luar biasa—
dalam sabar,
dalam syukur,
dalam memaafkan,
dalam mencintai-Mu tanpa drama.
Dan kalau boleh sedikit bercanda, Tuhan,
kalau nanti aku mulai lemah
di depan gorengan hangat menjelang maghrib,
ingatkan aku bahwa surga
tidak pernah digoreng tergesa-gesa.
Hai Tuhan, ini aku lagi.
Tak sempurna,
tak selalu konsisten,
tapi ingin pulang dengan hati bersih.
Besok Ramadhan.
Datanglah seperti cahaya.
Dan izinkan kami
menjadi jendela
yang tak lagi tertutup debu.
Amin.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment