Hari 10 – Puasa sebagai Perisai Diri

 ”Hari 10 – Puasa sebagai Perisai Diri”

Wejangan untuk Jiwa yang Mencari

Wahai jiwa yang mencari,
puasa bukan sekadar latihan menahan,
ia adalah benteng yang kau bangun perlahan
di sekeliling hatimu.

Di dunia yang bising oleh keinginan,
puasa mengajarimu berkata tidak
tanpa harus marah,
tanpa harus membenci.
Ia tidak mematikan nafsu,
tetapi menjinakkannya
agar ia tahu tempatnya.

Perisai tidak menghilangkan panah,
ia melindungi dari luka.
Begitulah puasa.
Godaan tetap melintas,
ujian tetap datang,
namun hatimu tidak lagi mudah tertembus.
Ada jarak antara dorongan dan tindakan,
dan di sanalah iman bekerja.

Wahai jiwa,
selama ini banyak luka
bukan karena dunia terlalu keras,
tetapi karena hatimu terlalu terbuka
tanpa penjagaan.
Puasa mengajarkan batas—
apa yang boleh masuk,
apa yang harus ditolak,
dan kapan engkau perlu berlindung.

Perisai ini tidak terbuat dari besi,
melainkan dari kesadaran.
Setiap kali engkau menahan diri
padahal mampu melampiaskan,
engkau sedang menebalkan perisai itu.
Setiap kali engkau memilih Allah
di atas keinginan sesaat,
engkau sedang dijaga.

Wahai jiwa,
puasa melindungimu
bukan hanya dari dosa besar,
tetapi dari kebiasaan kecil
yang perlahan mengeraskan hati.
Ia menjaga arah langkahmu
agar tidak terseret arus
yang tak kau niatkan.

Jika suatu hari engkau keluar dari Ramadhan
dan merasa lebih tenang,
lebih berhati-hati,
lebih sadar sebelum bertindak,
itulah tanda bahwa perisai itu
telah terbentuk.

Maka di hari kesepuluh ini,
jangan hanya berdoa agar godaan hilang.
Berdoalah agar hatimu kuat
saat godaan datang.
Karena Allah tidak selalu menjauhkan ujian,
tetapi Dia selalu menyediakan perlindungan
bagi hamba yang mau dijaga.

Beristirahatlah sejenak, wahai jiwa.
Engkau telah belajar menahan,
menjaga,
dan melindungi diri.
Sebentar lagi, perjalanan akan masuk
ke kedalaman yang lebih sunyi.

Puasa telah menjadi perisaimu.
Berjalanlah dengan tenang.
Engkau tidak rapuh seperti yang kau kira.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts