Hari 2 – Taubat: Menyapu Debu Dosa
Wejangan untuk Jiwa yang Mencari
Wahai jiwa,
jangan engkau kira taubat adalah milik orang yang suci.
Taubat adalah napas pertama bagi orang yang sadar
bahwa ia telah terlalu lama berjalan tanpa arah.
Dosa itu bukan sekadar catatan di langit,
ia adalah debu yang perlahan menutup cermin hati.
Bukan membuatmu hancur,
hanya membuatmu lupa siapa dirimu sebenarnya.
Dan taubat datang bukan sebagai cambuk,
melainkan sebagai sapu yang lembut.
Jangan menunda taubat karena merasa belum pantas.
Tak ada syarat untuk kembali selain keberanian mengaku:
“Ya Allah, aku tersesat,
dan aku lelah membawa bebanku sendiri.”
Menangislah jika engkau mampu,
tetapi jika air mata tak juga jatuh,
jangan putus asa.
Taubat bukan diukur dari derasnya tangis,
melainkan dari runtuhnya kesombongan.
Wahai jiwa,
Allah tidak menghitung seberapa sering engkau jatuh,
tetapi seberapa jujur engkau bangkit.
Setiap dosa yang kau sesali
adalah pintu rahasia menuju kedekatan.
Kadang, luka itulah yang mengajarimu
bagaimana rasanya berserah.
Jangan katakan, “Dosaku terlalu banyak.”
Lautan rahmat tidak pernah berkurang
hanya karena sungai kesalahan mengalir ke dalamnya.
Yang menjauhkanmu bukan dosa,
melainkan putus asa.
Taubat sejati bukan hanya meninggalkan maksiat,
tetapi memindahkan sandaran hati:
dari dirimu sendiri
kepada Allah sepenuhnya.
Engkau tak lagi berkata, “Aku bisa,”
melainkan, “Tanpa-Mu aku tidak sanggup.”
Maka di hari kedua ini,
sapulah debu yang menempel di hati,
bukan dengan cambuk rasa bersalah,
tetapi dengan kelembutan harap.
Karena Allah mencintai hamba
yang datang kepada-Nya
dengan hati retak namun jujur.
Dan dari retakan itulah,
cahaya sering kali masuk.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment