Hari 3 – Ikhlas: Meluruskan Tujuan Ibadah
Wejangan untuk Jiwa yang Mencari
Wahai jiwa yang mencari,
setelah engkau sadar dan berani kembali,
akan datang satu bisikan yang lebih lembut dari dosa:
keinginan untuk merasa cukup dengan dirimu sendiri.
Ikhlas adalah saat ibadahmu berhenti menjadi cermin
dan kembali menjadi jendela.
Engkau tidak lagi memandang dirimu di dalamnya,
tetapi melihat Allah di balik segala gerak dan diam.
Berhati-hatilah, wahai jiwa.
Tidak semua yang tampak suci itu lurus arahnya.
Ada amal yang rajin namun tersesat,
karena tujuannya berhenti pada diri.
Ia mencari ketenangan,
mencari kedudukan,
bahkan mencari rasa dekat—
namun lupa bahwa tujuan ibadah bukan rasa,
melainkan Ridha.
Ikhlas bukan tentang menghapus keinginan,
tetapi menundukkannya.
Engkau boleh berharap surga,
takut akan neraka,
namun jangan biarkan ibadahmu
menjadi transaksi tanpa cinta.
Yang paling halus adalah saat engkau beribadah
karena Allah layak disembah,
bukan karena apa yang bisa kau dapat.
Wahai jiwa,
meluruskan tujuan ibadah adalah kerja sunyi.
Tak ada yang bisa menilainya selain Dia.
Kadang engkau merasa ikhlas,
namun di situlah ujian dimulai.
Karena ikhlas tidak pernah mengaku dirinya ikhlas.
Jika suatu hari engkau beribadah
tanpa merasa apa-apa—
tanpa manis, tanpa cahaya—
jangan berhenti.
Bisa jadi itulah ibadah yang paling jujur,
karena ia berdiri tanpa sandaran selain ketaatan.
Bisikkanlah doa ini dalam hatimu:
“Ya Allah, luruskan aku sebelum Engkau luruskan amal-amalku.
Jika niatku menyimpang, kembalikan ia kepada-Mu.
Jika hatiku condong kepada selain Engkau,
patahkanlah dengan lembut.”
Karena saat tujuanmu kembali lurus,
ibadah sekecil apa pun akan menemukan jalannya ke langit.
Dan jiwa yang beribadah bukan untuk dilihat,
akan dilihat oleh Yang Maha Melihat—
dengan pandangan rahmat.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment