Hari 8 – Menundukkan Pandangan dan Pikiran

 “Hari 8 – Menundukkan Pandangan dan Pikiran”


Wejangan untuk Jiwa yang Mencari


Wahai jiwa yang mencari,

tidak semua yang melukai datang dari luar.

Banyak kegelisahan lahir

dari apa yang kau biarkan masuk

melalui mata

dan apa yang kau biarkan berlama-lama

di dalam pikiran.


Pandangan adalah anak panah.

Ia melesat cepat,

namun lukanya bisa lama sembuh.

Apa yang kau lihat hari ini

akan berdiam di hatimu esok hari,

menjadi bayangan,

menjadi keinginan,

menjadi kegelisahan yang tak kau mengerti asalnya.


Menundukkan pandangan

bukan berarti membenci dunia,

tetapi menempatkannya pada jarak yang aman.

Engkau melihat secukupnya,

lalu mengembalikan hatimu kepada Allah.

Karena tidak semua yang indah

perlu dimiliki,

dan tidak semua yang menarik

perlu diikuti.


Wahai jiwa,

pikiran pun perlu berpuasa.

Berapa banyak dosa yang dimulai

bukan dari perbuatan,

melainkan dari lamunan yang dibiarkan tumbuh.

Pikiran yang liar

akan menyeret hati ke tempat

yang tidak pernah ia niatkan.


Latihlah dirimu untuk sadar

saat pikiran mulai mengembara.

Bukan dengan memeranginya,

tetapi dengan mengembalikannya.

Setiap kali ia melompat ke yang sia-sia,

tarik ia perlahan dengan dzikir,

dengan istighfar,

dengan ingatan kepada Allah.


Menundukkan pandangan dan pikiran

adalah latihan kehadiran.

Engkau belajar berada di sini,

di detik ini,

bersama Allah.

Bukan di masa lalu yang menyesakkan,

bukan di masa depan yang mengkhawatirkan.


Wahai jiwa,

ketika matamu terjaga,

hatimu akan lebih mudah tenang.

Ketika pikiranmu jinak,

doamu akan lebih mudah naik.

Kesucian tidak selalu berteriak,

ia sering hadir sebagai ketenangan yang dalam.


Jika hari ini engkau tergelincir,

jangan mencaci dirimu.

Segera tundukkan kembali pandanganmu,

dan katakan dalam diam:

“Ya Allah, aku lemah tanpa penjagaan-Mu.”

Pengakuan itu sendiri

adalah bentuk ketaatan.


Maka di hari kedelapan ini,

jagalah apa yang kau lihat

dan apa yang kau pikirkan.

Karena dari sanalah

arah hatimu ditentukan.


Teruslah berjalan, wahai jiwa.

Saat pandanganmu tunduk,

jalan menuju cahaya

akan terasa lebih lapang.



ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts