Hari 9 – Sabar sebagai Nafas Orang Beriman
Hari 9 – Sabar sebagai Nafas Orang Beriman
Wejangan untuk Jiwa yang Mencari
Wahai jiwa yang mencari,
jika hari ini engkau merasa berat,
ketahuilah: engkau sedang belajar bernapas
dengan cara yang baru.
Sabar bukan berarti diam tanpa rasa,
bukan pula menelan luka sambil tersenyum palsu.
Sabar adalah kemampuan
untuk tetap bersama Allah
di saat engkau ingin lari dari keadaan.
Seperti napas, sabar sering tak disadari
hingga ia tertahan.
Begitu pula iman:
ia tampak biasa
sampai ujian datang dan menuntut kehadirannya.
Tanpa sabar, iman terengah-engah.
Wahai jiwa,
ada sabar dalam ketaatan
saat tubuhmu lelah dan matamu berat.
Ada sabar dalam menjauhi maksiat
saat godaan terasa dekat dan manis.
Dan ada sabar dalam takdir
saat doa-doamu belum dijawab
dengan cara yang kau inginkan.
Ketiganya bukan beban,
melainkan jalan.
Allah tidak meminta sabar
karena Dia ingin memberatkanmu,
tetapi karena Dia ingin mendewasakanmu.
Buah sabar tidak selalu segera terasa,
namun ia tumbuh kuat di dalam.
Jangan menunggu sabar terasa indah
baru engkau mau menjalaninya.
Sabar jarang terasa manis saat dilakukan,
namun selalu membawa manis saat dikenang.
Ia mengajarimu bertahan
tanpa kehilangan arah.
Wahai jiwa,
saat hatimu sesak,
ingatlah: engkau tidak ditinggalkan.
Engkau sedang digenggam
lebih erat dari biasanya.
Allah dekat dengan orang yang sabar
bukan sebagai penonton,
tetapi sebagai penopang.
Tarik napasmu perlahan.
Rasakan detiknya.
Itulah sabar.
Hembuskan kembali dengan dzikir.
Itulah tawakal.
Di antara keduanya,
iman bertahan hidup.
Maka di hari kesembilan ini,
jangan buru-buru meminta jalan keluar.
Mintalah kekuatan untuk tetap berdiri
di jalan yang sedang kau tempuh.
Karena orang beriman
tidak selalu kuat karena menang,
tetapi karena ia terus bernapas—
dengan sabar.
Teruslah melangkah, wahai jiwa.
Selama engkau masih mampu bersabar,
Allah masih sedang bekerja
di balik semua ini.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment