Ketika Negara Berutang pada Pegawainya

 “Ketika Negara Berutang pada Pegawainya”


Kami diminta profesional,
namun pisau diasah dari besi rapuh.
Anggaran belajar dipotong,
sementara tuntutan dilangitkan.

Kami diminta melayani dengan senyum negara,
tapi perut kami diajak berdamai
dengan inflasi yang tak pernah berempati.
Gaji berjalan tertatih,
harga berlari tanpa menoleh.

Dulu kami menabung dalam diam—
Bapertarum, Askes,
uang yang dikumpulkan
dari keringat yang tak tercatat berita.
Bukan hadiah negara,
bukan sedekah kekuasaan,
itu hak kami
yang dititipkan pada waktu.

Lalu namanya diganti,
wadahnya dipindah,
dan maknanya dilucuti.
Tapera, kata negara,
demi rakyat katanya.

Tapi bukankah kami juga rakyat?
Mengapa subsidi keadilan
dibayar dengan pengorbanan kami?
Mengapa solidaritas dipaksakan
tanpa kejujuran fiskal?

Jika subsidi adalah tugas negara,
mengapa buruhnya yang diminta berkorban lebih dulu?
Jika keadilan sosial adalah janji konstitusi,
mengapa ASN yang harus memikulnya
sementara APBN berlindung di balik kata “keterbatasan”?

Taspen pun menunggu
janji pemberi kerja
yang tak kunjung lunas.
Puluhan tahun negara menunggak pada pegawainya sendiri,
namun masih berani berbicara
tentang disiplin dan loyalitas.

Wahai negara,
kami bukan angka dalam sistem,
bukan kas cadangan kebijakan,
bukan celengan yang boleh dipecah
setiap kali wacana kehabisan dana.

Kami adalah manusia
yang memilih setia
di tengah peluang yang lebih menjanjikan.
Kesetiaan kami bukan tanpa batas,
ia ditopang oleh keadilan.

Dan kepada Tuhan,
kami kembalikan luka ini sebagai doa:
bukan doa untuk membalas,
tetapi doa agar penguasa diberi kesadaran—
bahwa mendholimi buruhnya sendiri
adalah jalan sunyi
menuju runtuhnya kepercayaan.

Sebab negara besar
tidak berdiri di atas slogan,
melainkan di atas
rasa adil
yang benar-benar dibayar
oleh mereka yang berkuasa.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts