PARADOKS DI CELAH CAHAYA
”PARADOKS DI CELAH CAHAYA”
Di sebuah negeri yang kaya raya,
kata-kata pernah berdiri gagah
seperti menara di tengah padang—
menjanjikan keadilan,
menggugat ketimpangan,
menyebut luka bangsa dengan suara lantang.
Kata-kata itu membakar dada,
mengajak kita percaya
bahwa tanah ini bukan untuk segelintir tangan,
bahwa laut ini bukan untuk kapal-kapal asing saja,
bahwa keringat petani
lebih suci dari angka-angka di bursa.
Namun waktu berjalan,
dan kursi kekuasaan adalah ruang sunyi
yang tak sama dengan panggung seruan.
Di sana, idealisme diuji
oleh angka defisit,
oleh meja perundingan,
oleh senyum yang menyimpan syarat.
Apakah ini pengkhianatan?
Ataukah ini pelajaran
bahwa dunia tak sesederhana
hitam dan putih di halaman buku?
Wahai pemimpin,
bukankah engkau dahulu berkata
tentang kedaulatan yang tegak di kaki sendiri?
Kini kami melihat
tangan-tangan lama masih berjabat,
jalan lama masih dilewati,
dan kami bertanya—
pelan, tanpa amarah—
di mana batas antara strategi dan kompromi?
Kami tahu, memimpin bukan bersajak.
Ia adalah keputusan yang memikul risiko.
Ia adalah malam tanpa tidur
dan siang yang penuh tekanan.
Namun ingatlah—
kata-kata yang pernah kau tulis
bukan sekadar tinta.
Ia adalah janji kepada nurani.
Ia adalah doa yang diam-diam
diaminkan oleh rakyat kecil.
Jika engkau harus berkompromi,
pastikan bukan pada nilai.
Jika engkau harus bernegosiasi,
pastikan bukan dengan keadilan.
Sebab bangsa ini
tidak kekurangan orang pandai,
tidak kekurangan gedung tinggi,
tidak kekurangan pidato—
yang kurang hanyalah keberanian
untuk tetap setia
pada suara hati sendiri.
Paradoks bukan dosa,
jika ia lahir dari kebijaksanaan.
Namun ia menjadi luka
jika lahir dari lupa.
Kami tidak meminta kesempurnaan,
hanya kesetiaan pada niat awal.
Tidak menuntut revolusi setiap pagi,
hanya keberpihakan yang jernih.
Karena kekuasaan hanyalah titipan,
dan sejarah adalah saksi yang tak bisa dibeli.
Di hadapan Tuhan,
tak ada koalisi, tak ada oposisi—
yang ada hanya pertanyaan sederhana:
apakah engkau menjaga amanah
atau membiarkannya berubah arah?
Biarlah kritik ini
bukan batu yang dilemparkan,
melainkan cermin yang disodorkan.
Agar siapa pun yang memimpin negeri ini
ingat—
bahwa jabatan adalah jalan,
bukan tujuan.
Dan bangsa ini
lebih besar dari siapa pun
yang pernah menulis tentangnya.
ⒷⒽⓌ
Comments
Post a Comment