Polymath (Katanya)

 ”Polymath (Katanya)”


Bertemu seseorang,
ngobrol ngalor ngidul seperti angin sore
yang tak tahu harus pulang ke mana.
Lalu ia berkata,
“Anda seperti saya… seorang polymath.”

Saya mengangguk,
seolah paham.
Padahal di kepala cuma:
Itu merek sepatu atau jurus baru?

Pulang, saya gugling.
Oh…
ternyata bukan manusia super
yang bisa terbang sambil menghafal rumus fisika
dan menulis puisi dengan kaki kiri.

Polymath, katanya,
orang yang mencintai banyak hal
dan tak tahan untuk hanya satu dunia.

Ah… kalau begitu,
mungkin memang iya.

Saya pernah jatuh cinta pada judo,
lalu selingkuh dengan karate,
digoda kempo.
Softball melambai,
sepak bola memanggil,
renang menenangkan,
loncat indah mengajarkan berani,
atletik melatih napas,
balapan mobil menguji nyali.

Musik membelai,
menulis mengendap,
puisi mengetuk malam,
menggambar berbisik warna,
drama meminjamkan wajah,
fisika menggoda logika,
matematika menuntut setia,
biologi mengajak takjub pada ciptaan-Nya.

Saya datang,
mahir sedikit,
lalu kadang bosan
dan pindah arena.

Orang bilang,
“Kalau tidak bosan, mungkin sudah juara dunia.”

Mungkin benar.
Tapi siapa bilang juara dunia
lebih indah dari juara rasa ingin tahu?

Saya tidak sedang mengejar podium.
Saya sedang mengejar takjub.

Tuhan memberi dunia begitu luas,
masa saya cuma mencoba satu pintu?
Kalau rasa penasaran itu anugerah,
maka berpindah-pindah
adalah cara saya bersyukur.

Saya bukan manusia super.
Saya hanya manusia yang terlalu penasaran.

Dan kalau besok saya bosan lagi,
lalu jatuh cinta pada hal baru—
biarlah.

Selama hati tetap hidup,
dan syukur tetap tumbuh,
maka setiap arena
adalah rumah belajar.

Mungkin saya bukan juara dunia.
Tapi saya juara dalam menikmati perjalanan.


ⒷⒽⓌ

Comments

Popular Posts